BORNEONEWS, Palangka Raya - Stunting masih menjadi tantangan besar bagi Indonesia dalam meningkatkan kualitas kesehatan anak-anak.
Stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada anak balita akibat kekurangan gizi kronis, yang menyebabkan tubuh anak lebih pendek dibandingkan standar usianya.
Direktur Utama Badan Pengelola Dana Perkebunan atau BPDP, Eddy Abdurrahman, menegaskan pentingnya penanganan stunting secara menyeluruh, termasuk peningkatan kesadaran masyarakat terhadap pemenuhan gizi sejak masa kehamilan.
Menurut data Kementerian Kesehatan tahun 2021, terdapat 68.982.009 keluarga di Indonesia, dengan 40.159.115 di antaranya masuk dalam kategori keluarga sasaran. Dari jumlah tersebut, sebanyak 22.587.718 keluarga atau 56,25% merupakan keluarga berisiko stunting.
"Angka ini menunjukkan bahwa stunting masih menjadi persoalan serius yang harus segera ditangani," ujar Eddy Abdurrahman pada Kamis, 15 Mei 2025.
Dampak dari stunting tidak hanya terbatas pada pertumbuhan fisik, tetapi juga berpengaruh terhadap perkembangan otak dan kecerdasan anak.
"Anak yang mengalami stunting akan menghadapi kesulitan dalam proses belajar serta memiliki sistem imun yang lebih lemah dibandingkan anak-anak yang tumbuh dengan gizi cukup," jelas Eddy.
Selain itu, risiko penyakit metabolik seperti kegemukan, gangguan jantung, dan kesulitan belajar menjadi dampak jangka panjang dari stunting yang tidak ditangani dengan baik.
Penyebab utama stunting berasal dari berbagai faktor, termasuk kurangnya asupan gizi sejak bayi dalam kandungan, buruknya nutrisi ibu hamil, serta adanya penyakit infeksi.
"Selain faktor biologis, lingkungan dan sosial ekonomi juga berperan dalam meningkatkan risiko stunting. Oleh karena itu, pendekatan multidisiplin diperlukan dalam upaya penanganannya," tutur Eddy.
Eddy juga menyoroti pentingnya edukasi dan pendampingan kepada keluarga untuk meningkatkan pemahaman tentang gizi seimbang serta pola hidup sehat.
"Kami berharap kesadaran masyarakat dapat terus meningkat, sehingga upaya pencegahan stunting bisa lebih optimal dan berdampak positif bagi generasi mendatang," ujarnya.
Dengan langkah konkret seperti program peningkatan gizi bagi ibu hamil dan anak usia dini, serta edukasi tentang pentingnya ASI eksklusif, BPDP optimistis stunting dapat ditekan.
"Investasi pada kesehatan anak-anak adalah investasi pada masa depan bangsa," pungkas Eddy.(TESTI PRISCILLA/H)









