PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Dalam rangka mendekatkan proses pembelajaran dengan realitas sosial dan ekologis, mahasiswa Program Doktor Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan, Universitas Sumatera Utara atau PSL USU melaksanakan kegiatan studi ekskursi ke kawasan pesisir Kota Medan, meliputi Belawan, Pulau Burung, dan Mangrove Education Center yang dikelola Yayasan Gajah Sumatera atau Yagasu.

Kegiatan ini merupakan bagian dari perkuliahan mata kuliah Urban Planning, yang diampu oleh Prof. Dr. Rahmawaty, S.Hut., M.Si., IPU dan Isnen Fitri, S.T., M.Eng., Ph.D. serta diikuti oleh mahasiswa program doktoral antara lain Suranto, Eling Tuhono, Suarno, Darnianti, dan Ismayadi.

"Perencanaan kota yang berkelanjutan tidak dapat dipahami hanya dari perspektif teknokratik. Mahasiswa perlu mengalami langsung dinamika ruang, melihat tantangan dan potensi secara empirik, serta membangun sensitivitas terhadap konteks sosial dan ekologi lokal," jelas Prof Rahmawaty kepada Borneonews pada Kamis, 15 Mei 2025.

Prof Rahmawaty menekankan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk memberikan pengalaman langsung dalam memahami dinamika lingkungan pesisir dan perencanaan kota berkelanjutan.

"Ekskursi ini merupakan bagian dari mata kuliah Urban Planning sehingga pada kesempatan ini mahasiswa berkesempatan mengeksplorasi bagaimana konsep perencanaan kota dapat diterapkan dalam konteks pesisir yang menghadapi berbagai tantangan ekologis dan sosial," katanya.

Dalam kesempatan tersebut, Prof Rahmawaty menjelaskan bahwa perencanaan kota berkelanjutan tidak dapat dipahami hanya dari perspektif teknokratik semata. Menurutnya, mahasiswa perlu melihat dan merasakan langsung dinamika ruang serta memahami tantangan dan potensi yang ada secara empiris. Hal ini akan membantu mereka membangun sensitivitas terhadap konteks sosial dan ekologi lokal, yang merupakan aspek penting dalam merancang kebijakan pembangunan yang inklusif.

"Pulau Burung dan Mangrove Education Center menjadi titik penting dalam perjalanan ekskursi, mahasiswa mempelajari ekosistem mangrove serta strategi konservasi yang dilakukan oleh komunitas lokal," jelasnya.

Yagasu, sebagai pengelola pusat edukasi ini, telah berkontribusi dalam menjaga keberlanjutan ekosistem pesisir melalui berbagai inisiatif, seperti rehabilitasi mangrove dan pemberdayaan masyarakat setempat. Mahasiswa diajak untuk memahami bagaimana pendekatan berbasis komunitas dapat menjadi solusi efektif dalam menghadapi krisis lingkungan.

Di Belawan, mahasiswa mengamati dinamika perkotaan di kawasan pesisir yang menghadapi tantangan seperti abrasi, penurunan permukaan tanah, dan urbanisasi yang semakin pesat. Diskusi antara mahasiswa dan masyarakat setempat membuka wawasan tentang bagaimana perencanaan yang berbasis ekologi dan sosial dapat mendukung pembangunan yang lebih berkelanjutan. Dengan pendekatan langsung seperti ini, diharapkan mahasiswa dapat mengembangkan solusi yang lebih adaptif dan responsif terhadap kebutuhan lokal.

Melalui kegiatan ekskursi ini, mahasiswa tidak hanya mendapatkan pemahaman teoritis tetapi juga pengalaman empiris dalam melihat bagaimana kebijakan perencanaan kota diterapkan di lapangan. Pendekatan transformatif ini menjadi penting dalam membentuk perencana dan peneliti yang memiliki kepekaan terhadap perubahan zaman serta mampu mengintegrasikan aspek ekologis dan sosial dalam desain kebijakan pembangunan. (TESTI PRISCILLA/j)