JAKARTA –

BORNEONEWS, Jakarta - Bank DBS memproyeksikan nilai penjualan e-commerce di Asia Tenggara akan melonjak lebih dari dua kali lipat, dari 184 miliar dolar AS pada 2024 menjadi 410 miliar dolar AS pada 2030.

Proyeksi tersebut tercantum dalam laporan perdana DBS Nextwave Southeast Asia 2025 yang menggambarkan fase pertumbuhan baru sektor e-commerce di kawasan ini. Laporan tersebut disusun bersama perusahaan data dan riset Cube, dan menyebutkan bahwa pertumbuhan tahunan gabungan (CAGR) sektor ini diperkirakan mencapai 14 persen dalam enam tahun ke depan.

“Seiring dengan matangnya sektor e-commerce di kawasan ini, kami melihat pergeseran dari sekadar menawarkan promosi dan diskon menuju pengalaman pelanggan yang lebih inovatif dan berbeda. Ini dicapai melalui investasi di area seperti personalisasi berbasis AI, logistik yang lebih baik, dan keuangan yang lebih tangguh,” ujar Head of Digital Economy Group, Institutional Banking Bank DBS Chua Shih Guan dalam keterangannya, Kamis 15 Mei 2025.

Penjualan e-commerce di Asia Tenggara meningkat 46 kali lipat dari 4 miliar dolar AS menjadi 184 miliar dolar AS antara 2012-2024, didukung dengan pengguna yang kian memilih e-commerce sebagai metode pembelian barang.

Sejalan dengan pertumbuhan ini, beberapa raksasa e-commerce di kawasan Asia Tenggara telah mencapai profitabilitas.

Faktor-faktor yang berkontribusi terhadap pencapaian ini antara lain konsolidasi pangsa pasar, peningkatan biaya layanan, dan fokus yang lebih besar pada penawaran inti bisnis mereka.

Beberapa perusahaan juga berinvestasi dalam model bisnis vertikal yang terkait dengan e-commerce, seperti pergudangan dan pengiriman jarak jauh (last-mile delivery) untuk meningkatkan efisiensi operasional dan memperbaiki layanan pelanggan.

Bank DBS menilai bahwa fase pertumbuhan ini ditandai dengan fokus pada profitabilitas, penguatan pengalaman pelanggan, serta model bisnis yang lebih berkelanjutan.

Pemain besar mulai beralih dari ekspansi agresif ke pendekatan yang lebih efisien dan berorientasi jangka panjang.

Laporan tersebut juga menggarisbawahi tren penggunaan kecerdasan artifisial (AI) yang makin luas dalam menciptakan pengalaman berbelanja yang lebih personal dan imersif.

Selain itu, struktur pendanaan perusahaan teknologi pun diprediksi akan beralih dari dominasi ekuitas ke kredit sebagai upaya menekan biaya modal dan mendukung pertumbuhan sehat.

Seiring dengan semakin matangnya sektor e-commerce di kawasan ini, berbagai platform mulai beralih dari ekspansi cepat menuju pertumbuhan yang berkelanjutan.

Optimalisasi biaya, memastikan pertumbuhan pendapatan yang berkelanjutan, serta membangun basis pelanggan yang lebih setia dan mendalam akan menjadi faktor kunci keberhasilan dalam fase pengembangan berikutnya.

Penekanan pada pertumbuhan berkelanjutan juga dapat mengubah struktur modal perusahaan teknologi di Asia Tenggara.

"Secara historis, mereka bergantung pada pembiayaan ekuitas melalui modal ventura dan dana ekuitas swasta. Ke depannya, baik perusahaan rintisan (start-up) maupun perusahaan yang berkembang (scale-up) mungkin akan mencari struktur modal yang lebih seimbang dengan fokus pada pertumbuhan yang didukung oleh kredit untuk menurunkan biaya modal," jelas Chua Shih Guan.

Sementara, Co-Founder Cube Simon Torring mengatakan sektor e-commerce telah menjadi salah satu kekuatan paling transformatif dalam perjalanan digital Asia Tenggara.

Tidak hanya mengubah cara orang berbelanja, tetapi mereka juga meletakkan dasar bagi pertumbuhan di sektor logistik, pembayaran, fintech, dan infrastruktur digital.

"Seiring sektor ini memasuki fase baru, platform-platform akan semakin cerdas, lebih terfokus, dan lebih terintegrasi dalam kehidupan sehari-hari. Evolusi ini mencerminkan seberapa jauh kawasan ini telah berkembang, dan seberapa besar potensi yang masih terbentang di depan,” terangnya.

ANTARA