BORNEONEWS, Pulang Pisau - Sutaji, seorang warga Desa Mantaren 2 Kabupaten Pulang Pisau sukses mengembangkan budidaya madu kelulut atau lebih dikenal sebagai meliponikultur yang menggunakan metode dan memelihara dan mengembangkan lebah tanpa sengat dalam menghasilkan madu.
Usaha yang sudah dilakoninya sejak dua tahun yang lalu itu, memiliki proses dengan menyediakan rumah lebah yang ditempatkan di lokasi yang strategis serta menggunakan sumber pakan sistem alam.
"Tentunya dengan melakukan perawatan yang telaten terhadap koloni lebah kelulut," ucap Sutaji, Kamis, 5 Mei 2025.
Ia menjelaskan, dalam satu bulan budidaya madu kelulut, Sutaji mampu menghasilkan 12 liter madu kelulut dari total 50 bok sarang lebah kelulut yang ia miliki.
"Untuk harga madu, saya menjual per 100 ml dengan harga 30 ribu rupiah, per 250 ml dengan harga 80 ribu rupiah dan per 500 ml dengan harga 150 ribu rupiah," jelasnya.
Ditanya terkait dengan motivasi untuk anak muda saat ini, agar dapat memberanikan diri dalam menciptakan gebrakan baru dalam dunia usaha. Karena, budidaya madu kelulut sangat berpotensi bahkan merupakan usaha yang sangat menjanjikan apabila ditekuni dengan serius.
Ia menambahkan, dalam hal ini berharap kepada Pemerintah Daerah melalui Dinas terkait agar dapat memberikan perhatian berupa pelatihan terhadap pembudidaya madu kelulut.
"Kami sangat memerlukan pelatihan terkait tata cara memecah koloni lebah kelulut. Karena sampai saat ini, saya melakukan tata cara yang saya dapat dari media sosial Youtube," tutupnya. (M PRADILA KANDI/j)









