PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Ekskursi yang dilaksanakan mahasiswa Program Doktor Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan atau PSL Universitas Sumatera Utara atau USU dimulai dengan perjalanan menggunakan boat menyusuri perairan Belawan dan Pulau Burung. Kawasan ini menjadi contoh nyata kompleksitas pesisir urban yang berfungsi sebagai zona penyangga ekologis sekaligus menghadapi tantangan besar akibat alih fungsi lahan, abrasi, serta pencemaran dari aktivitas industri pelabuhan.

Kegiatan ini merupakan bagian dari perkuliahan mata kuliah Urban Planning, yang diampu oleh Prof. Dr. Rahmawaty, S.Hut., M.Si., IPU dan Isnen Fitri, S.T., M.Eng., Ph.D. serta diikuti oleh mahasiswa program doktoral antara lain Suranto, Eling Tuhono, Suarno, Darnianti, dan Ismayadi.

PSL USU melaksanakan kegiatan studi ekskursi ke kawasan pesisir Kota Medan ini meliputi Belawan, Pulau Burung, dan Mangrove Education Center yang dikelola Yayasan Gajah Sumatera atau Yagasu.

Mahasiswa diajak mengamati lanskap pesisir ini secara langsung untuk memahami dampak lingkungan yang terjadi serta mencari pendekatan solusi yang dapat diterapkan dalam perencanaan kota berkelanjutan.

Dalam perjalanan ekskursi, mahasiswa melakukan observasi terhadap struktur vegetasi mangrove, keberadaan burung air, serta aktivitas ekonomi masyarakat pesisir yang masih bergantung pada ekosistem alam. Mangrove menjadi aspek penting dalam menjaga keseimbangan lingkungan pesisir dan ekonomi masyarakat. Salah satu lokasi yang menarik perhatian peserta adalah Mangrove Education Center Yagasu, sebuah pusat konservasi yang berbasis pemberdayaan masyarakat. Pendekatan yang diterapkan Yagasu ini memberikan gambaran bagaimana pengelolaan lingkungan dapat berjalan selaras dengan kesejahteraan masyarakat lokal.

--page

Dr. Isnen Fitri, S.T., M.Eng., Ph.D., salah satu dosen yang membimbing kegiatan ini, menegaskan bahwa kawasan mangrove bukan hanya berperan sebagai zona penyangga ekologis, tetapi juga sebagai fondasi keberlanjutan sosial-ekonomi masyarakat pesisir.

"Konsep perencanaan kota tidak bisa dilepaskan dari aspek ekologis yang harus dikelola secara adil dan partisipatif," katanya dalam rilis yang diterima Borneonews pada Jumat, 16 Mei 2025.

Ia berharap pengalaman yang diperoleh mahasiswa selama ekskursi ini dapat menjadi bagian dari riset disertasi mereka, sehingga menghasilkan solusi berbasis bukti untuk tantangan urbanisasi di wilayah pesisir.

Selain konservasi mangrove, mahasiswa juga berdiskusi dengan komunitas lokal yang terlibat dalam berbagai program lingkungan. Mereka berbicara dengan nelayan, petani tambak, serta warga sekitar yang menggantungkan hidup pada ekosistem mangrove. Dialog ini memberikan wawasan langsung mengenai strategi adaptasi yang dilakukan masyarakat dalam menghadapi perubahan lingkungan. Mahasiswa mendapatkan perspektif baru tentang pentingnya keterlibatan masyarakat dalam proses perencanaan kota yang berkelanjutan.

Di Pulau Burung, mahasiswa mengamati lebih dekat keberadaan burung air dan keanekaragaman hayati yang berkembang di kawasan ini. Keberadaan burung air menjadi indikator penting bagi kesehatan ekosistem pesisir.

Prof Rahmawaty menjelaskan bahwa pengamatan ini memberikan pemahaman mendalam mengenai hubungan antara konservasi ekologis dan kebijakan pembangunan wilayah pesisir. Dengan pendekatan berbasis ekosistem, mahasiswa dapat menilai bagaimana integrasi konservasi dan pembangunan dapat berjalan beriringan.

"Melalui pengalaman langsung dari ekskursi ini, mahasiswa diharapkan mampu mengembangkan pemikiran yang lebih holistik dalam perencanaan kota yang berkelanjutan. Dengan memahami tantangan ekologi dan sosial di kawasan pesisir, mereka dapat menyusun pendekatan yang lebih adaptif serta memperkuat kebijakan berbasis data dan pengalaman lapangan," kata Prof Rahmawaty.

Studi ekskursi ini tidak hanya memperkaya wawasan akademik, tetapi juga membangun kesadaran akan urgensi pembangunan yang berorientasi pada keberlanjutan lingkungan dan kesejahteraan masyarakat. (TESTI PRISCILLA/Y)