PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Sebagai bagian dari eksplorasi keberlanjutan dalam perencanaan kota, ekskursi mahasiswa Program Doktor Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan atau PSL Universitas Sumatera Utara atau USU menyoroti transformasi sistem transportasi menuju moda rendah emisi.

Dalam perjalanan kembali ke Kota Medan, mahasiswa menggunakan bus listrik sebagai moda transportasi, sebuah langkah yang sejalan dengan tren global urban decarbonization yang berfokus pada pengurangan jejak karbon melalui reformasi sistem mobilitas.

"Keputusan untuk menggunakan bus listrik dalam perjalanan ini bukan sekadar pilihan logistik, tetapi juga bagian dari pendekatan edukatif dalam memahami transportasi hijau sebagai elemen krusial dalam pembangunan kota berkelanjutan," kata Dosen Pengampu, Prof Rahmawaty kepada Borneonews pada Jumat, 16 Mei 2025.

Kegiatan ini merupakan bagian dari perkuliahan mata kuliah Urban Planning, yang diampu oleh Prof. Dr. Rahmawaty, S.Hut., M.Si., IPU dan Isnen Fitri, S.T., M.Eng., Ph.D. serta diikuti oleh mahasiswa program doktoral antara lain Suranto, Eling Tuhono, Suarno, Darnianti, dan Ismayadi.

Mahasiswa diajak untuk mengamati bagaimana efisiensi energi, pengurangan emisi, dan integrasi teknologi dapat berkontribusi dalam menciptakan sistem transportasi yang lebih ramah lingkungan.

"Dengan demikian, mereka tidak hanya belajar dari aspek ekologis dan tata ruang, tetapi juga dari perkembangan teknologi yang mendukung kebijakan urban sustainability," tururnya.

Dalam diskusi selama perjalanan, para dosen pengampu mata kuliah Urban Planning menekankan bahwa transisi menuju sistem transportasi rendah emisi adalah bagian dari komitmen terhadap mitigasi perubahan iklim. Salah satu tantangan utama dalam penerapan kebijakan ini adalah kesiapan infrastruktur serta perubahan pola mobilitas masyarakat. Mahasiswa ditantang untuk menganalisis bagaimana aspek-aspek tersebut dapat diintegrasikan dalam strategi perencanaan kota yang lebih progresif dan berorientasi masa depan.

"Penggunaan transportasi berbasis listrik ini juga memberikan wawasan mengenai kebijakan transportasi di Indonesia dan bagaimana negara ini dapat terus mendorong inovasi mobilitas yang lebih berkelanjutan," terang Prof Rahmawaty lagi.

Dengan semakin meningkatnya urbanisasi, kebutuhan terhadap transportasi yang efisien dan ramah lingkungan menjadi semakin mendesak. Ekskursi ini membuka peluang bagi mahasiswa untuk memahami bagaimana perencanaan sistem transportasi bisa menjadi katalis dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat serta mendukung pembangunan ekonomi yang berkelanjutan.

Mahasiswa juga diberikan kesempatan untuk membandingkan tren yang terjadi di berbagai negara dalam implementasi transportasi hijau. Dengan mempelajari kasus-kasus global, mereka dapat mengidentifikasi strategi yang paling sesuai dengan kondisi Indonesia, khususnya dalam menghadapi tantangan unik di kawasan pesisir dan urban. Pemanfaatan energi terbarukan dalam sektor transportasi menjadi salah satu kunci dalam mewujudkan kota yang lebih adaptif terhadap perubahan iklim.

"Melalui pengalaman langsung ini, mahasiswa diharapkan mampu memahami pentingnya integrasi transportasi hijau dalam perencanaan kota," katanya.

Pendekatan berbasis bukti dan pengalaman lapangan yang diperoleh selama ekskursi ini menjadi fondasi bagi mereka dalam menyusun riset dan kebijakan yang lebih inovatif. Dengan kombinasi antara analisis ekologis, teknologi, dan kebijakan publik, mahasiswa memiliki perspektif yang lebih luas dalam menciptakan solusi untuk pembangunan kota yang berkelanjutan dan inklusif. (TESTI PRISCILLA/H)