SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit – Menjelang Hari Raya Iduladha 2025, pasokan sapi kurban dari luar daerah yang masuk di Sampit, Kotawaringin Timur (Kotim) mengalami keterlambatan. Hal itu nampak dari lapak-lapak sapi dadakan jelang hari raya Idul adha yang masih sepi satu bulan sebelum kurban.

Kondisi ini dikeluhkan oleh pedagang di lapak pasar sapi musiman di Jalan HM Arsyad, yang menyebutkan bahwa proses karantina dan vaksinasi tahun ini lebih lama dibanding tahun sebelumnya.

“Tahun lalu, 43 hari sebelum Iduladha kami sudah buka dan stok sapi sudah banyak. Tapi tahun ini proses karantina lebih lama, mencapai sekitar satu bulan sehingga proses mendatangkan sapi lebih lama dari tahun lalu,” kata Daeng Beta, salah satu pedagang sapi kurban di Jalan HM Arsyad depan Kantor Dinas SDABMBKPRKP, Sabtu, 17 Mei 2025.

Ia menyebutkan, pekan pertama bulan ini baru masuk sekitar 60 ekor sapi. Minggu depan diperkirakan masuk lagi 150 ekor. Target total pasokan sapi tahun ini antara 250 hingga 300 ekor. Jumlah tersebut mengalami penurunan dibandingkan tahun lalu yang mencapai 380 ekor.

Harga sapi tahun ini mengalami kenaikan Rp1 juta hingga Rp1,5 juta per ekor. Kenaikan harga dipicu oleh biaya tambahan karantina yang kini mencapai 25 hari, ditambah proses vaksinasi selama sekitar 8 hari untuk mendatangkan sapi dari Sulawesi. Hal ini menyebabkan keterlambatan pengeluaran dokumen resmi dan distribusi sapi ke lapak.

“Harga paling murah tahun ini Rp18 juta hingga Rp50 juta dengan bobot sekitar 75-200 kg,” ujarnya. 

Meski begitu, Daeng menyebutkan sudah ada sekitar 30 ekor sapi yang terjual. Mayoritas pembeli merupakan pelanggan tetap seperti perusahaan dan warga perorangan yang rutin berkurban setiap tahun.

Ia juga menambahkan, salah satu kendala teknis adalah sistem identifikasi di Kalimantan Tengah (Kalteng) yang belum mendeteksi sapi dari daerah baik dari Jawa dan Sulawesi. Sehingga mereka menggunakan dokumen dari Banjarmasin, Kalimantan Timur sebagai solusi mendatangkan sapi dari luar daerah.

“Kalau tidak mendatangkan sapi dari luar, harga bisa melambung tinggi. Sapi lokal saja sekarang harganya di atas Rp25 juta, sementara peserta arisan kurban biasanya hanya punya dana Rp19–20 juta,” tuturnya.

Lanjutnya, penjualan tahun ini diperkirakan menurun seiring dengan melemahnya daya beli masyarakat dan sawit yang tidak stabil. Penurunan juga diperkirakan akibat keterlambatan sapi masuk yang menyebabkan waktu menjual lebih singkat.

"Harapan kami, semua sapi bisa habis terjual menjelang Hari Raya Idul Adha," tandas Daeng. (DEWI PATMALASARI/H)