PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Alam sekitar, benda, aktivitas, dan beragam peristiwa menjadi sumber inspirasi tanpa batas dalam berkreativitas. Inspirasi yang diolah dengan pengetahuan, pengalaman, imajinasi, dan kreativitas dapat melahirkan karya sastra, termasuk puisi. Namun, kreativitas ini harus ditopang dengan kecintaan dan ketekunan dalam berlatih secara konsisten.

"Menulis puisi tidak boleh sekadar menunggu inspirasi datang, tetapi harus diaktifkan dengan mengamati dan menggali apa pun yang terlihat, terdengar, teralami, terasakan, serta terpikirkan. Mengolah pengalaman menjadi puisi adalah keterampilan yang dapat diasah dengan latihan dan proses yang berkelanjutan," kata Praktisi Bahasa Daerah dan Indonesia Palangka Raya, Lukman Juhara pada Sabtu, 17 Mei 2025.

Kesadaran akan pentingnya mencipta dan membaca puisi menjadi salah satu materi yang dibahas Lukman saat menjadi narasumber dalam Bimbingan Teknis atau Bimtek Guru Utama Tahap 1 Revitalisasi Bahasa Daerah atau RBD yang digelar oleh Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Tengah di Hotel Fovere Palangka Raya, 8–11 Mei 2025. Peserta yang berasal dari Barsel, Barut, Bartim, dan Mura mengikuti sesi diskusi dan praktik untuk memperdalam keterampilan mereka dalam menciptakan puisi. Konsistensi dalam berlatih menjadi kunci utama bagi mereka yang belum terbiasa menulis dan membaca puisi.

"Bahasa Indonesia memang menjadi sarana komunikasi utama dalam kehidupan sehari-hari. Namun, masih banyak potensi bahasa yang belum dimanfaatkan untuk mencipta sastra," kata Guru Bahasa Indonesia di SMAN 5 Palangka Raya ini lagi.

Kemauan yang kuat dan latihan yang rutin menurut Lukman diperlukan agar kemampuan berbahasa bisa berkembang menjadi keterampilan sastra yang berkualitas.

"Tantangan semakin besar ketika karya sastra harus diwujudkan dalam bahasa daerah yang penggunaannya semakin berkurang. Meskipun begitu, bukan berarti hal ini tidak dapat dilakukan," yakin Lukman.

Dengan tekad yang kuat, lanjutnya, mencipta sastra dalam bahasa daerah tetap bisa dilaksanakan, terutama oleh penutur aslinya. Program Revitalisasi Bahasa Daerah atau RBD ini dianggap menjadi langkah penting agar bahasa daerah tetap lestari dan tidak punah.

Semangat RBD 2025 yang digelar oleh Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Tengah menjadi momentum bagi para guru dan masyarakat untuk terus berkarya.

"Berkarya sastra tidak terbatas oleh tempat dan waktu—di sini, di sana, dan di mana saja, kreativitas dapat terus tumbuh demi kelestarian bahasa dan budaya lokal," tuturnya lagi. (TESTI PRISCILLA/H)