PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Dalam upaya meningkatkan pemanfaatan tandan kosong kelapa sawit, penggunaan biochar terus mendapat perhatian dari para praktisi dan akademisi.

Sebanyak 100 petani sawit yang tergabung dalam Asosiasi Petani Kelapa Sawit Perusahaan Inti Rakyat atau Aspekpir telah mempraktikkan langsung pembuatan biochar dalam kegiatan yang berlangsung di KUD Karya Sembada, Desa Batang Tindih, Kecamatan Rumbio Jaya, Kabupaten Kampar, Riau, pada Rabu, 14 Mei 2025.

Salah satu instruktur dalam pelatihan produksi biochar dari Yayasan Agathis Dammara Karbon, Mirza Arif Zainal, menjelaskan bahwa biochar merupakan arang aktif dengan kandungan karbon yang tinggi, dihasilkan melalui proses pembakaran tidak sempurna atau tanpa oksigen dengan suhu di atas 200-250 derajat Celsius.

"Proses ini berlangsung selama dua jam atau lebih, tergantung pada jenis biomassa yang digunakan," kata Mirza dalam rilis yang dikirimkan Badan Pengelola Dana Perkebunan atau BPDP pada Sabtu, 17 Mei 2025.

Menurut Mirza, biochar memiliki rongga-rongga kecil yang berfungsi sebagai penyerap dan penyimpan unsur hara secara efektif.

"Secara fisik, tampilan biochar menyerupai arang untuk bakaran sate atau ayam panggang, tetapi dengan struktur yang jauh lebih berpori dibandingkan arang biasa," ujarnya.

Rongga-rongga ini berperan penting dalam mengikat unsur hara seperti nitrogen, fosfor, dan kalium, sehingga mencegahnya hanyut akibat hujan atau erosi tanah.

Keunggulan utama biochar adalah kemampuannya menjaga kelembaban tanah dan mendukung perkembangan akar tanaman. Dengan sifat ini, biochar tidak berfungsi sebagai pupuk, melainkan sebagai pembenah tanah yang dapat meningkatkan kualitas lahan pertanian secara keseluruhan.

"Biochar membantu mempertahankan unsur hara, sehingga tanaman bisa tumbuh lebih optimal tanpa kehilangan nutrisi akibat pencucian tanah," tambah Mirza.

Lebih jauh, biochar juga memainkan peran penting dalam menciptakan lingkungan tanah yang sehat. Kandungan karbonnya yang tinggi mampu meningkatkan kapasitas penyimpanan air dan mendukung keberlangsungan mikroorganisme tanah yang bermanfaat.

Dengan demikian, biochar dapat menjadi solusi jangka panjang bagi petani dalam meningkatkan produktivitas pertanian mereka.

Dalam konteks ekonomi hijau, pemanfaatan biochar dari tandan kosong kelapa sawit memberikan manfaat ganda.

Selain membantu dalam pengelolaan limbah perkebunan, biochar juga berpotensi menjadi produk bernilai ekonomi tinggi yang dapat dikembangkan melalui usaha mikro, kecil, dan menengah atau UMKM atau koperasi petani.

Dukungan dari Badan Pengelola Dana Perkebunan atau BPDP dalam pengembangan biochar ini menjadi langkah strategis dalam mendorong pertanian yang lebih berkelanjutan.

Ke depan, pemanfaatan biochar diharapkan semakin meluas dan diterapkan secara mandiri oleh petani kelapa sawit. Dengan teknologi ini, sektor perkebunan dapat lebih selaras dengan prinsip keberlanjutan lingkungan, sekaligus memberikan dampak positif bagi kesejahteraan petani.(TESTI PRISCILLA/R)