BORNEONEWS, Pulang Pisau - Kondisi kesehatan memprihatinkan, Muhammad Noor (26) alias Tarzan Bahaur, di hutan Bahaur, yang diungsikan orang tuanya di hutan Desa Bahaur Batu Raya membutuhkan pertolongan. Sejak 8 tahun lalu, anak muda yang diduga mengalami keterbelakangan mental ini, 'dibuang' orang tuanya ke hutan.

Informasi itu disampaikan Bidin, salah salah satu tenaga kerja sukarela (TKS) Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Dinsosnakertrans) Pulang Pisau, di Kecamatan Kahayan Kuala, Jumat (14/10/2016), terkait keberadaan pemuda yang hidup bagaikan "Tarzan" di hutan Desa Bahaur Batu Raya Kecamatan Kahayan Kuala, Kabupaten Pulang Pisau, Kalimantan Tengah.

Bidin membenarkan Informasi yang diperoleh para awak media dari masyarakat tersebut, dan masalah tersebut kata dia sudah disampaikan kepada pihak Dinsonakertrans Kabupaten Pulang Pisau. Kondisi Muhammad Noor yang diketahui berusia 26 tahun kata dia saat ini mengalami kesulitan untuk berjalan. "Kita sudah melaporkan ke dinas sosial dan melalui kepala bidang yang menangani masalah tersebut, kita diminta menelusuri keberadaan kartu keluarga Muhammad Noor supaya dalam proses bantuan dapat berjalan tanpa kendala," terang Bidin.

Untuk mencari makan, kata dia Mohammad Noor hanya mengandalkan buah-buahan seperti pisang dan buahan lainnya yang ada di sekitar hutan Desa Bahaur Batu Raya. Demikian juga Noor memiliki peralatan memasak saat diungsikan orang tuanya di hutan tersebut. "Dia berada di Bahaur Batu Raya sudah empat tahun,dan meski mengalami keterbelakangan mental masih bisa diajak komunikasi," katanya.

Harapannya Dinasosnakertrans dapat merespon keberadaan dan kondisi pemuda tersebut. Karena kondisinya yang tidak layak dikhawatirkan akan membuat kondisi kesehatannya bertambah buruk. "Kalau melihat kondisi kakinya agak kaku dan sulit untuk berjalan, dan untuk mencari makan, Noor harus mencari dengan berjalan merangkak," katanya.

Berdasarkan informasi yang diperoleh dari masyarakat Muhammad Noor kata Bidin diungsikan karena ayahnya Arbaen menikah lagi. Karena alasan tersebut, Noor yang mengalami keterbelakangan mental tersebut diungsikan orang tuanya.

Terkait hal tersebut Kepala Dinsosnakertrans Satria During saat dikonfirmasi mengatakan segera mengkoordinaskan dengan aparatur kecamatan dan desa setempat. Dia mengatakan baru saja mengetahui informasi tersebut, dan tidak pernah mendapatkan laporan. "Masalah yang seperti ini kenapa sampai tidak diketahui oleh Desa dan Kecamatan, dan laporan biasanya kita peroleh dari aparatur setempat," ujar During.

Menurutnya untuk melakukan evakuasi juga pihaknya tidak dapat melakukan dengan serta merta, karena jika terjadi persoalan dengan pemuda tersebut akan menimbulkan persoalan baru. "Makanya kita minta telusuri keberadaan keluarga pemuda ini, juga terkait dengan proses pengurusan BPJS agar pada saat kita melakukan penanganan kesehatan, tidak mengalami kendala juga," terangnya.

During mengaku Dinsosnakertrans tidak memiliki anggaran untuk menangani hal yang seperti ini. "Namun jika diperlukan kita akan berkoordinasi dengan pihak terkait lainnya, dan kondisi kesehatan pemuda ini perlu kita periksa apakah mengalami keterbelakangan mental atau gangguan jiwa," ujarnya.

Formulasi penanganan tersebut kata dia perlu dilakukan secara bersama, karena ini merupakan persoalan yang baru dihadapi oleh Dinsosnakertrans. "Proses pemeriksaan kesehatan yang besangkutan perlu dilakukan, dan kita akan koordinasikan dengan aparatur setempat, seperti apa nanti penaganannya," imbuhnya. (JAMES DONNY/N).