PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi dan Pelindungan Konsumen Otoritas Jasa Keuangan atau OJK, Friderica Widyasari Dewi, memaparkan hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan atau SNLIK Tahun 2025 dalam acara Kick-Off Bulan Literasi Keuangan Kalteng.

“Survei menunjukkan indeks literasi keuangan nasional mencapai 66,46 persen, meningkat 1,03 persen dari tahun sebelumnya. Sementara itu, indeks inklusi keuangan juga mengalami kenaikan signifikan hingga 80,51 persen, atau naik 5,49 persen dibandingkan tahun 2024,“ kata Friderica yang memberi Leader Insight secara daring.

Pernyataan ini disampaikan dalam sambutan daring pada acara Kick-Off Bulan Literasi Keuangan 2025 di Kalimantan Tengah pada Rabu, 21 Mei 2025.

“Peningkatan ini merupakan hasil dari berbagai upaya edukasi keuangan yang telah dilakukan oleh OJK bersama mitra strategisnya di seluruh Indonesia. Ia juga mendorong agar program-program literasi dan inklusi keuangan terus diperkuat guna memastikan masyarakat semakin memahami dan memanfaatkan layanan keuangan dengan bijak,“ jelasnya lagi.

Dalam kesempatan tersebut, Friderica mengapresiasi inisiatif unggulan yang telah dijalankan oleh Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah atau TPAKD Kalimantan Tengah, termasuk Program Ngume atau Ngihau Mahi Wunge dari Kabupaten Barito Timur dan Program Ketapang Gaya dari Kabupaten Gunung Mas.

“Kedua program ini menawarkan pinjaman tanpa bunga dan didukung asistensi usaha serta infrastruktur akses keuangan bagi pelaku usaha kecil,“ tuturnya.

Program-program tersebut dinilai menjadi contoh nyata komitmen daerah dalam memperkuat akses keuangan bagi masyarakat, khususnya mereka yang bergerak di sektor pertanian, industri kecil, dan perikanan. Keberhasilan program ini diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi daerah lain untuk mengembangkan kebijakan inklusi keuangan yang lebih efektif.

OJK juga menegaskan pentingnya kolaborasi antara pemerintah daerah, lembaga jasa keuangan, dan komunitas masyarakat dalam mendorong pertumbuhan ekonomi berbasis inklusi keuangan. Dengan literasi keuangan yang semakin tinggi, masyarakat diharapkan dapat mengambil keputusan finansial dengan lebih bijak dan mengoptimalkan berbagai peluang ekonomi yang tersedia.

“Ke depan, OJK akan terus memantau implementasi program literasi dan inklusi keuangan di daerah serta memberikan dukungan bagi pengembangan inisiatif serupa. Dengan sinergi yang kuat, diharapkan tingkat literasi dan inklusi keuangan nasional terus meningkat, memberikan dampak positif bagi kesejahteraan masyarakat serta pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan,“ tuturnya. (TESTI PRISCILLA/j)