BORNEONEWS, Palangka Raya - Badan Pengelola Dana Perkebunan atau BPDP kembali mempertegas komitmennya dalam membangun industri kelapa sawit yang berkualitas dan berkelanjutan melalui Penandatanganan Perjanjian Kerja Sama Program Pelatihan Pengembangan SDM Perkebunan Kelapa Sawit Tahun 2025. Acara yang berlangsung di Jakarta ini dihadiri oleh pejabat pemerintah, pimpinan lembaga pelatihan, serta mitra strategis dari berbagai daerah di Indonesia.
Dalam sambutannya, Direktur Utama BPDP, Eddy Abdurrachman, menekankan bahwa subsektor perkebunan, khususnya kelapa sawit, memiliki peran penting dalam perekonomian nasional.
"Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), kontribusi subsektor ini terhadap Produk Domestik Bruto atau PDB sektor pertanian tahun 2023 mencapai lebih dari 30 persen, dengan kelapa sawit menyumbang 75,8 persen dari total ekspor komoditas perkebunan," kata Eddy dalam rilisnya pada Kamis, 22 Mei 2025.
Meski memiliki kontribusi besar, lanjut Eddy, industri kelapa sawit masih menghadapi tantangan yang cukup signifikan, termasuk rendahnya produktivitas, keterlambatan program peremajaan, serta tekanan regulasi dari pasar internasional seperti European Union Deforestation Regulation atau EUDR dan kebijakan resiprokal dari mitra dagang. Untuk menjawab tantangan tersebut, peningkatan kualitas SDM menjadi faktor kunci dalam penguatan industri kelapa sawit nasional.
"Program pelatihan ini merupakan bagian dari mandat Peraturan Presiden Nomor 132 Tahun 2024, yang bertujuan meningkatkan kompetensi tenaga kerja perkebunan," katanya.
Tahun ini, lanjut Eddy, BPDP bekerja sama dengan 18 lembaga pelatihan untuk melaksanakan pelatihan di 17 provinsi dan 40 kabupaten, dengan total peserta mencapai 10.786 orang. Total anggaran yang dialokasikan mencapai Rp160,6 miliar, mencakup berbagai jenis pelatihan seperti teknis budidaya, manajerial, kewirausahaan, hingga kepemimpinan.
Sementara itu, Ketua Komite Pengembangan SDM Perkebunan Kelapa Sawit, Darmansyah, menegaskan bahwa keberhasilan program ini bergantung pada kesiapan lembaga pelatihan dalam menyediakan sarana prasarana yang memadai, serta menghadirkan pengajar yang kompeten dan inspiratif. Darmansyah menggarisbawahi pentingnya koordinasi lintas pihak, termasuk antara lembaga pelatihan, dinas perkebunan daerah, dan fasilitator lapangan.
"Program ini diharapkan dapat membentuk tenaga kerja perkebunan yang profesional dan berdaya saing tinggi, serta mampu menjawab tantangan industri kelapa sawit di masa depan," tuturnya.
Dengan sinergi kuat antara pemerintah, lembaga pelatihan, dan para pelaku industri, BPDP optimis program ini akan menjadi landasan penting dalam penguatan SDM perkebunan kelapa sawit di Indonesia. (TESTI PRISCILLA/j)









