PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Dalam upaya meningkatkan kualitas buku cerita anak berbahasa daerah, Pusat Perbukuan mendorong para penulis untuk menggunakan bahasa yang paling dekat dan sering digunakan oleh anak-anak. Hal ini disampaikan oleh Pengolah Data Perbukuan dari instansi Pusat Perbukuan, Sistya Devi Apriliana, kepada peserta Lokakarya Luring Penulisan Cerita Anak Berbahasa Daerah 2025 yang berlangsung pada Kamis, 22 Mei 2025, di Ballroom Fovere Hotel, Palangka Raya.

Sistya Devi menjelaskan bahwa penggunaan bahasa populer di tingkat anak-anak menjadi fokus utama dalam penyusunan cerita.

“Kami justru meminta kepada para penulis agar tidak terpaku pada bahasa baku yang baik dan benar, tetapi lebih mengutamakan bahasa yang dapat dimengerti oleh anak-anak sesuai jenjangnya,” ujarnya.

Menurutnya, bahasa yang sederhana dan akrab dengan kehidupan sehari-hari anak-anak akan membantu mereka lebih mudah memahami isi cerita serta meningkatkan minat baca.

Pendekatan ini dinilai penting karena banyak buku cerita anak yang masih menggunakan bahasa yang terlalu formal, sehingga kurang menarik bagi pembaca muda.

“Dengan penggunaan bahasa yang lebih natural, diharapkan cerita-cerita berbahasa daerah dapat lebih efektif dalam menyampaikan pesan dan nilai budaya kepada generasi muda,“ kata Sistya.

Selain itu, dalam lokakarya tersebut, para peserta juga diberikan panduan dalam menciptakan alur cerita yang menarik dan sesuai dengan dunia anak-anak.

“Penulis didorong untuk menggali kreativitas dalam membangun karakter, dialog, serta situasi yang mencerminkan kehidupan dan pengalaman anak-anak,“ tuturnya.

Sebelumnya, Kepala Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Tengah, Sukardi Gau mengatakan bahwa lokakarya ini menjadi bagian dari program revitalisasi literasi anak berbahasa daerah, yang bertujuan untuk melestarikan kekayaan bahasa lokal serta membangun fondasi yang kuat bagi pengembangan literasi anak.

“Dengan adanya dukungan dari Pusat Perbukuan, diharapkan semakin banyak buku berkualitas yang dapat menjadi bahan bacaan edukatif bagi anak-anak di seluruh Indonesia,“ jelas Sukardi.

Para peserta lokakarya menyambut baik pendekatan ini dan berkomitmen untuk menerapkannya dalam karya-karya mereka. Dengan penggunaan bahasa yang lebih komunikatif dan sederhana, mereka berharap dapat menciptakan cerita yang tidak hanya menghibur, tetapi juga membentuk pemahaman dan kecintaan anak-anak terhadap bahasa daerah mereka sendiri. (TESTI PRISCILLA/j)