PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Badan Pengelola Dana Perkebunan atau BPDP resmi meluncurkan Program Pelatihan Pengembangan Sumber Daya Manusia atau SDM Perkebunan Kelapa Sawit tahun 2025. Program ini bertujuan untuk menjawab tantangan industri melalui peningkatan kompetensi tenaga kerja, sejalan dengan mandat Peraturan Presiden Nomor 132 Tahun 2024. Tahun ini, BPDP bekerja sama dengan 18 lembaga pelatihan yang telah lolos seleksi, mencakup 17 provinsi dan 40 kabupaten di Indonesia.

"Total peserta pelatihan mencapai 10.786 orang, dengan nilai kerja sama yang ditandatangani hari ini sebesar Rp160,6 miliar," kata Direktur Utama BPDP, Eddy Abdurrahman dalam rilisnya pada Kamis, 22 Mei 2025.

Pelatihan yang diselenggarakan mencakup berbagai aspek penting dalam industri kelapa sawit, mulai dari teknis budidaya, manajerial, kewirausahaan, hingga kepemimpinan. BPDP menargetkan peningkatan kualitas tenaga kerja agar mampu berkontribusi dalam memperkuat daya saing industri di tingkat nasional maupun global.

Eddy Abdurrachman, menegaskan bahwa program ini bukan hanya tentang meningkatkan keterampilan teknis, tetapi juga bagian dari strategi nasional untuk menciptakan industri kelapa sawit yang berkualitas, berkelanjutan secara lingkungan, dan kompetitif di pasar global.

"Kami mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk berkomitmen dalam memastikan keberlanjutan industri sawit Indonesia yang tidak hanya unggul dalam jumlah produksi, tetapi juga dalam kualitas dan etika bisnis," katanya.

--page

BPDP berharap bahwa program ini akan memberikan dampak positif yang signifikan bagi industri kelapa sawit nasional, meningkatkan kesejahteraan pekerja, serta memperkuat posisi Indonesia sebagai produsen kelapa sawit yang unggul. Dengan sinergi antara pemerintah, lembaga pelatihan, dan para pelaku industri, program ini diharapkan menjadi langkah strategis dalam memastikan industri sawit yang berkelanjutan dan berkualitas.

"Program pelatihan ini merupakan salah satu upaya konkret BPDP dalam menjawab tantangan yang dihadapi industri kelapa sawit, termasuk produktivitas yang masih perlu ditingkatkan serta tekanan regulasi dari pasar internasional," tuturnya.

Dengan kompetensi tenaga kerja yang lebih baik, BPDP optimis bahwa industri kelapa sawit Indonesia dapat terus berkembang dan memberikan kontribusi yang lebih besar bagi perekonomian nasional.

Ketua Komite Pengembangan SDM Perkebunan Kelapa Sawit, Darmansyah, dalam kesempatan yang sama, menyampaikan pentingnya kesiapan lembaga pelatihan. Ia menekankan bahwa kesuksesan program ini bergantung pada sarana prasarana yang memadai, pengajar yang kompeten, serta koordinasi lintas sektor, termasuk antara lembaga pelatihan, dinas perkebunan daerah, dan fasilitator lapangan.

"Hanya dengan kualitas pelatihan yang optimal, tenaga kerja kelapa sawit dapat mencapai profesionalisme dan daya saing tinggi," tutur Darmansyah. (TESTI PRISCILLA/y)