BORNONEWS, Palangka Raya – Pemerintah Kota Palangka Raya melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH) meluncurkan program inovatif bertajuk "Ubah Sampah Jadi Sembako", sebagai bagian dari strategi pengurangan volume sampah sekaligus peningkatan nilai ekonomi limbah rumah tangga.
Wakil Wali Kota Palangka Raya, Achmad Zaini, menjelaskan bahwa program ini menjadi langkah konkret pemerintah dalam mendorong pengelolaan sampah yang berkelanjutan.
“Kami ingin mengubah cara pandang masyarakat terhadap sampah. Tidak semua sampah harus dibuang. Jika dikelola dengan benar, sampah justru bisa ditukar menjadi kebutuhan pokok,” ujarnya saat meninjau kegiatan di Bank Sampah Induk Jalan Anoi.
Melalui kegiatan ini, masyarakat dapat menukarkan sampah rumah tangga seperti kertas, plastik, logam, hingga minyak jelantah dengan berbagai kebutuhan pokok seperti minyak goreng, gula, mie instan, hingga ikan kaleng.
Pelaksana Tugas Kepala DLH Palangka Raya, Sugiyanto, menyatakan bahwa kegiatan ini merupakan pelaksanaan kedua dari program yang dirancang untuk berkelanjutan.
“Kami ingin mendorong warga untuk membiasakan memilah sampah dari rumah. Sampah yang sudah dipilah bisa ditabung atau ditukar sembako,” jelasnya.
Program ini juga menjadi bagian dari kampanye edukasi untuk memperkenalkan manfaat bank sampah kepada masyarakat. Dengan memilah sampah, maka hanya residu yang benar-benar tak bisa diolah yang akan dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA).
Kepala Bidang Pengelolaan Sampah dan Limbah B3 DLH Kota Palangka Raya, Teguh Jaya Permana, menyebutkan bahwa saat ini volume sampah harian kota mencapai sekitar 160 ton. Oleh karena itu, program seperti ini sangat penting untuk menekan angka tersebut.
Sampah warga akan ditimbang berdasarkan jenisnya, lalu dikonversi menjadi nilai rupiah dengan tarif mulai dari Rp500 hingga Rp7.500 per kilogram, tergantung jenisnya. Nilai tersebut bisa langsung ditukar dengan paket sembako yang disediakan oleh pengelola bank sampah, yang harganya bervariasi antara Rp2.000 hingga Rp18.000 per item.
Pantauan di lokasi menunjukkan antusiasme warga yang tinggi. Puluhan warga sekitar datang membawa sampah seperti kardus, koran, plastik, seng, dan aluminium untuk ditukarkan. Selain mengurangi limbah, mereka juga mendapat keuntungan langsung berupa sembako.









