BORNEONEWS, Palangka Raya - Pusat Perbukuan terus berupaya meningkatkan akses terhadap buku bacaan yang dapat membantu anak-anak dalam proses belajar membaca. Salah satu jenis bacaan yang dianggap efektif adalah buku ramah cerna (decodable book), yang telah didefinisikan oleh Asosiasi Literasi Internasional (International Literacy Association/ILA) sebagai bahan bacaan yang dirancang khusus untuk membantu pembaca kanak-kanak memahami sistem alfabet secara bertahap. Buku ini disusun dengan teks yang dapat diurai dan diurutkan, serta menggunakan kata-kata yang sering muncul dan berkorespondensi dengan bentuk visualnya.
Pengolah Data Perbukuan dari instansi Pusat Perbukuan, Sistya Devi Apriliana, menegaskan pentingnya buku ramah cerna dalam mendukung keterampilan membaca anak sejak dini.
“Buku ramah cerna membantu anak-anak menghubungkan fonetik dengan tulisan secara lebih sistematis, sehingga mereka lebih percaya diri dalam membaca secara mandiri,” ujar Sistya Devi dalam Lokakarya Luring Penulisan Cerita Anak Berbahasa Daerah 2025 pada Jumat, 23 Mei 2025 di Ballroom Fovere Hotel, Palangka Raya.
Konsep buku yang dapat didekode juga telah dijelaskan oleh Mesmer (2001), yang menekankan dua karakteristik utama: pertama, adanya hubungan fonetik yang teratur dalam penyusunan kata, dan kedua, tingkat kesesuaian antara bunyi huruf yang dipelajari dengan teks yang disajikan dalam bacaan. Dengan pendekatan ini, anak-anak dapat lebih mudah memahami pola bunyi dan bentuk kata, yang pada akhirnya mempercepat proses belajar membaca.
Menurut Sistya Devi, buku bacaan jenis ini berperan sebagai jembatan bagi anak-anak dalam mengakses teks yang lebih kompleks.
“Saat anak-anak terbiasa membaca buku yang dapat didekode, mereka mulai menemukan pola antara bunyi dan tulisan, yang membuat mereka lebih mudah memahami bacaan yang lebih sulit di kemudian hari,” jelasnya.
Lebih jauh, Pusat Perbukuan juga mendorong penerbit dan penulis untuk lebih banyak menghadirkan buku dengan konsep serupa agar lebih banyak anak-anak yang dapat merasakan manfaatnya. Dengan semakin banyaknya pilihan bahan bacaan yang sesuai dengan tahap perkembangan anak, maka tingkat literasi di Indonesia diharapkan bisa meningkat.
Keberhasilan membaca buku yang dapat didekode tidak hanya meningkatkan keterampilan teknis membaca, tetapi juga membangun kepercayaan diri serta minat baca anak sejak dini.
“Semakin sering anak membaca, semakin baik kemampuan mereka dalam memahami teks secara mandiri. Ini adalah langkah awal yang sangat penting dalam membentuk kebiasaan membaca sepanjang hidup,” tutur Sistya Devi. (TESTI PRISCILLA/j)









