BORNEONEWS, Palangka Raya - Nilai Tukar Pembudidaya Ikan atau NTPi di Kalimantan Tengah mengalami penurunan sebesar 1,15 persen pada April 2025.
Kepala Badan Pusat Statistik atau BPS Provinsi Kalimantan Tengah, Agnes Widiastuti, menjelaskan bahwa penurunan ini dipengaruhi oleh turunnya indeks harga yang diterima pembudidaya ikan atau It sebesar 0,71 persen, sementara indeks harga yang dibayar pembudidaya ikan atau Ib justru mengalami kenaikan sebesar 0,45 persen.
Agnes Widiastuti mengungkapkan bahwa penurunan It terjadi akibat merosotnya harga pada kelompok budidaya air payau, terutama bandeng, yang turun 2,28 persen. Sebaliknya, kelompok budidaya air tawar seperti patin dan mas/karper tawar mengalami kenaikan harga sebesar 0,30 persen.
“Harga bandeng mengalami tekanan akibat pasokan yang melimpah di beberapa daerah, sementara budidaya ikan air tawar masih menunjukkan peningkatan,” ujarnya pada Jumat, 23 Mei 2025.
Di sisi lain, kenaikan Ib sebesar 0,45 persen didorong oleh peningkatan dua indeks utama, yaitu indeks konsumsi rumah tangga atau KRT sebesar 0,47 persen dan indeks Biaya Produksi dan Penambahan Barang Modal (BPPBM) sebesar 0,41 persen. Kenaikan ini menunjukkan bahwa pembudidaya ikan menghadapi biaya operasional yang lebih tinggi, terutama terkait kebutuhan rumah tangga dan biaya produksi usaha.
“Kenaikan harga kebutuhan rumah tangga serta biaya produksi memberikan tekanan bagi pembudidaya ikan. Oleh karena itu, penting bagi para pelaku usaha budidaya ikan untuk melakukan efisiensi dan inovasi agar tetap bisa bertahan dalam kondisi ini,” tambah Agnes.
Kondisi penurunan NTPi ini perlu menjadi perhatian pemerintah dan pelaku usaha budidaya ikan agar sektor ini tetap berkembang. Dukungan dalam bentuk stabilisasi harga, akses terhadap bahan baku yang lebih murah, serta peningkatan teknologi budidaya dapat menjadi solusi untuk meningkatkan daya saing pembudidaya ikan.
Meski menghadapi tantangan, pembudidaya ikan diharapkan dapat terus beradaptasi dengan dinamika pasar. Dengan strategi yang tepat, sektor perikanan budidaya masih memiliki peluang untuk tetap tumbuh dan memberikan kontribusi bagi perekonomian Kalimantan Tengah. (TESTI PRISCILLA/H)









