BORNEONEWS, Sampit – Pengembangan Bandara H Asan Sampit tak sekadar menjadi proyek infrastruktur biasa. Di balik rencana perpanjangan landasan pacu dan penambahan fasilitas penunjang penerbangan, tersimpan harapan besar bagi kemajuan ekonomi Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim).
Pemerintah daerah menaruh perhatian serius pada proyek ini, yakin bahwa bandara yang lebih representatif akan menjadi motor penggerak pertumbuhan ekonomi di Bumi Habaring Hurung.
“Kalau bandara ini sudah bisa didarati pesawat Airbus A320-800, otomatis jumlah penumpang akan lebih banyak artinya orang akan melihat kondisi kotim ini ada kemajuan dan investor akan melirik Kotim sebagai daerah yang berkembang,” kata Plt Asisten II Bidang Perekonomian dan Pembangunan Setda Kotim Rody Kamislam, Jumat, 23 Mei 2025.
Saat ini pesawat paling besar yang bisa mendarat di Sampit hanya Boeing 737-500 yang jumlahnya terbatas. Dengan panjang landasan pacu 2.060 meter, bandara belum bisa mendukung penerbangan pesawat berbadan lebar. Namun pemerintah daerah berupaya mendorong perpanjangan landasan menjadi minimal 2.200 meter, bahkan telah mengusulkan hingga 2.300 meter ke Kementerian Perhubungan.
Menurut Rody, pengembangan ini akan menciptakan efek domino pada sektor ekonomi. Mulai dari meningkatnya tingkat hunian hotel, berkembangnya sektor transportasi lokal, hingga bertambahnya penghasilan pelaku UMKM yang bergerak di bidang oleh-oleh dan kuliner.
“Bayangkan kalau petinggi dari pusat bisa langsung ke Sampit tanpa harus lewat Palangka Raya atau Pangkalan Bun. Mereka akan menginap, makan, berbelanja. Ini akan sangat berdampak pada perputaran ekonomi,” ujarnya.
Selain itu, kesiapan infrastruktur ini juga akan memberi sinyal positif bagi maskapai lain untuk membuka rute ke Sampit. Sehingga harga tiket pesawat bisa lebih kompetitif.
Meski frekuensi penerbangan saat ini bertambah hanya dengan satu maskapai, yaitu Nam Air rute Sampit-Surabaya, Sampit-Jakarta, dan Sampit-Semarang. Namun kondisi Bandara H Asan Sampit dikhawatirkan lumpuh jika suatu saat pesawat jenis Boeing 737-500 tidak dapat beroperasi. Padahal potensi penumpang di daerah ini sangat besar karena banyaknya pekerja pendatang di sektor perkebunan kelapa sawit.
Tak hanya menunggu dari pemerintah pusat, Pemkab Kotim telah aktif menyiapkan berbagai kebutuhan untuk pengembangan Bandara H Asan Sampit. Di antaranya pembebasan lahan untuk perpanjangan runway seluas 5 hektare yang telah dihibahkan ke Dirjen Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan RI dan berupaya membebaskan lahan 1,8 hektare untuk memindahkan gedung PKP-PK yang dinilai menghambat manuver pesawat besar.
Adapun, masterplan pengembangan Bandara H Asan Sampit sudah diselesaikan sejak 2024 saat dirinya menjabat sebagai Plt Kepala Dinas Perhubungan Kotim.
Rody bersama sejumlah Kepala Dinas terkait mendampingi Bupati Kotim Halikinnor kembali menghadap Dirjen Perhubungan Udara menyampaikan proposal pengembangan bandara pada Jumat, 16 Mei 2025.
Bupati Kotim Halikinnor pun telah meninjau sisi timur landasan pacu bandara, Kamis, 22 Mei 2025. Saat itu diputuskan lahan Bandara H Asan Sampit yang digunakan masyarakat untuk jalan dari kampung Bengkirai ke Jalan Muchran Ali akan ditutup demi mendukung Kawasan Keselamatan Operasi Penerbangan (KKOP). Pemerintah daerah juga memberikan solusi agar masyarakat tetap nyaman dengan mengebut rencana peningkatan jalan Kampung Bengkirai tembus Tjilik Riwut sepanjang 1,7 kilometer.
Selain itu, lanjut Rody, Pemkab juga telah menyiapkan jalan alternatif menggantikan Jalan Tjilik Riwut, sisi barat landasan pacu Bandara H Asan Sampit, yang akan terkena dampak perpanjangan runway.
"Inilah mengapa Bupati mendorong agar ini bisa segera terwujud, karena ini sangat penting harus ada pengembangan bandara," tandasnya. (DEWI PATMALASARI/H)









