PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Indonesia dan Malaysia terus mempertahankan posisinya sebagai dua negara penghasil minyak kelapa sawit terbesar di dunia. Pohon kelapa sawit atau Elaeis guineensis yang tumbuh subur di wilayah tropis menjadi faktor utama dominasi kedua negara ini dalam industri minyak nabati global.

Menurut data Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia atau GAPKI 2025, Indonesia mencatat produksi minyak kelapa sawit sebesar 52,76 juta ton pada tahun 2024, sementara Malaysia mencapai angka 19,5 juta ton.

Di Indonesia, pohon kelapa sawit banyak ditemukan di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dan Papua. Total luas lahan perkebunan sawit di Indonesia mencapai 16,38 juta hektare. Direktur Utama Badan Pengelola Dana Perkebunan atau BPDP, Eddy Abdurrahman, menekankan pentingnya pengelolaan perkebunan yang berkelanjutan guna memastikan produksi tetap stabil dan memberikan manfaat bagi masyarakat.

"Pemerintah terus mendorong praktik perkebunan yang berkelanjutan agar industri sawit tetap menjadi pilar ekonomi nasional. Inovasi dan peningkatan produktivitas harus sejalan dengan prinsip keberlanjutan lingkungan," ujar Eddy Abdurrahman dalam rilisnya pada Sabtu, 24 Mei 2025.

Pohon kelapa sawit memiliki karakteristik unik yang menjadikannya tanaman bernilai ekonomi tinggi. Batangnya tegak dengan tinggi mencapai 20-30 meter, serta umur produktif yang berlangsung selama 25-30 tahun. Selain itu, bunga jantan dan betina pohon kelapa sawit terpisah, sehingga penyerbukan alami jarang terjadi tanpa intervensi.

Selain batang dan bunga, akar kelapa sawit juga memiliki peran penting dalam pertumbuhan tanaman. Akar serabutnya tumbuh ke bawah dan samping untuk menyerap nutrisi, sementara akar napas yang mengarah ke atas berfungsi menambah aerasi. Dengan struktur yang adaptif, kelapa sawit mampu bertahan di berbagai jenis tanah, menjadikannya komoditas utama dalam industri minyak nabati.
Di tengah meningkatnya permintaan minyak kelapa sawit di pasar global, BPDP terus berupaya memperkuat regulasi dan kebijakan terkait industri ini.

"Kami berkomitmen untuk menjaga keseimbangan antara produksi dan kelestarian lingkungan. Ke depan, strategi pengelolaan yang lebih efisien akan terus dikembangkan," kata Eddy Abdurrahman.
Langkah-langkah ini diharapkan dapat memastikan industri kelapa sawit tetap berkontribusi terhadap ekonomi nasional dan kesejahteraan masyarakat. (TESTI PRISCILLA/H)