BORNEONEWS, Palangka Raya - Himpunan Sarjana-Kesusastraan Indonesia atau HISKI kembali menggelar diskusi sastra daring dalam rangkaian kegiatan Tukar Tutur Sastra #15 pada Sabtu, 24 Mei 2025.
Acara ini menghadirkan berbagai narasumber yang membahas warisan budaya sastra Nusantara serta potensinya di era digital. Salah satu materi menarik yang disampaikan adalah Representasi Filosofi Huma Betang pada Cerita Rakyat di Era Digital, yang dikupas oleh Alifiah Nurachmana dari HISKI Komisariat Kalimantan Tengah.
Dalam pemaparannya, Alifiah menjelaskan bahwa konsep Huma Betang, yang mencerminkan nilai toleransi dan kebersamaan dalam masyarakat Dayak, memiliki relevansi kuat dalam dunia digital saat ini. Ia menekankan bahwa cerita rakyat yang mengandung filosofi ini dapat menjadi sarana edukatif yang memperkuat nilai-nilai sosial di tengah arus globalisasi.
“Huma Betang bukan hanya tentang rumah fisik, tetapi lebih kepada kehidupan bersama dalam persaudaraan, berbagi atau tolong menolong, dan menghargai keberagaman dengan bermufakat dan beretika,” ujar Alifiah dalam siaran zoom yang diikuti Borneonews.
Selain Alifiah, dua narasumber lain turut menyampaikan materi yang tak kalah menarik. Dr Venus Khasanah dari HISKI UNJ membahas Potensi Pantun Sunda Buhun sebagai Objek Kajian Penelitian Sastra, sementara Nurul Ludfia Rochman dari HISKI Komisariat Banyuwangi mengangkat tema Mengenal Mocoan Gembrung Mondoluko Banyuwangi, Tantangan dan Peluang Revitalisasinya. Kedua materi ini menggali kekayaan sastra tradisional dan peluangnya dalam penelitian maupun upaya pelestarian.
Diskusi ini dimoderatori oleh Dr Endah Imawati, yang mengarahkan jalannya pembahasan dengan interaktif dan menarik. Para peserta yang hadir secara daring melalui Zoom dan siaran langsung YouTube HISKI berkesempatan untuk bertanya langsung kepada para narasumber, memperkaya dialog seputar pelestarian sastra daerah.
Kegiatan Tukar Tutur Sastra merupakan forum rutin yang diadakan oleh HISKI guna memperluas wawasan dan menggali lebih dalam tentang kekayaan literasi Nusantara. Dengan hadirnya berbagai narasumber dari berbagai daerah, acara ini menjadi wadah penting untuk merawat dan mengembangkan budaya literasi di era modern.
Dengan semakin pesatnya perkembangan teknologi, pelestarian sastra tradisional memerlukan adaptasi dan inovasi. Diskusi ini menjadi salah satu langkah untuk menggali potensi yang ada serta mencari strategi terbaik agar warisan budaya tetap relevan dan dapat dinikmati oleh generasi masa kini dan mendatang. (TESTI PRISCILLA/H)









