BORNEONEWS, Palangka Raya - Direktur Utama Badan Pengelola Dana Perkebunan atau BPDP, Eddy Abdurrahman, menegaskan bahwa minyak sawit mentah memiliki keunggulan sebagai bahan baku industri oleokimia dibandingkan minyak nabati lainnya.
Hal ini didukung oleh penelitian yang menyebutkan bahwa minyak sawit memiliki karakteristik yang lebih optimal dalam berbagai aplikasi industri oleokimia.
Menurut Eddy, hilirisasi minyak sawit menjadi langkah strategis dalam meningkatkan daya saing komoditas sawit Indonesia di pasar global. Dengan memperluas pemanfaatan minyak sawit dalam industri oleokimia, Indonesia tidak hanya dapat memperkuat posisinya dalam perdagangan internasional tetapi juga meningkatkan kesejahteraan masyarakat, sebagaimana dikemukakan dalam berbagai penelitian sebelumnya.
“Oleokimia sendiri merupakan senyawa kimia yang dihasilkan dari lemak dan minyak, baik nabati maupun hewani, termasuk minyak kelapa sawit,“ kata Eddy dalam rilisnya pada Sabtu, 24 Mei 2025.
Produk oleokimia dikenal lebih ramah lingkungan karena bersifat biodegradable dan tidak mengandung logam berat yang bersifat toksik. Oleh karena itu, industri oleokimia berbasis sawit dapat menjadi solusi berkelanjutan bagi berbagai sektor industri (PASPI, 2024).
“Sejak pertama kali berkembang pada tahun 1975, industri oleokimia Indonesia terus mengalami pertumbuhan. Jika pada tahun 2014 hanya terdapat sembilan produk turunan dengan kapasitas olah 1,40 juta ton per tahun, saat ini jumlah produk turunan telah mencapai 47 jenis,“ katanya.
Meski demikian, Indonesia masih tertinggal dari Malaysia yang telah memiliki 120 produk turunan. Dalam policy brief PASPI tahun 2024 disebutkan bahwa hilirisasi oleokimia dapat dibagi menjadi beberapa kategori, mulai dari oleokimia dasar atau basic oleochemical, turunan oleokimia atau oleokimia antara atau intermediate oleochemical, hingga produk akhir berbasis oleokimia. Eddy menegaskan bahwa Indonesia perlu terus mendorong pengembangan industri ini agar dapat bersaing dengan negara lain.
“Indonesia yang selama ini dikenal sebagai produsen minyak sawit terbesar di dunia juga memiliki potensi besar untuk menjadi pemimpin dalam industri oleokimia,“ tuturnya.
Dengan dukungan kebijakan yang tepat dan strategi hilirisasi yang berkelanjutan, industri oleokimia berbasis sawit di Indonesia dapat berkembang lebih pesat dan memberikan manfaat ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat dan dunia usaha. (TESTI PRISCILLA/H)









