PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Pada Tukar Tutur Sastra #15 yang diselenggarakan oleh Himpunan Sarjana-Kesusastraan Indonesia atau HISKI pada Sabtu, 24 Mei 2025, Alifiah Nurachmana dari HISKI Komisariat Kalimantan Tengah kembali mengangkat filosofi Huma Betang dalam diskusi sastra.

Ia menekankan bahwa nilai-nilai kehidupan yang terkandung dalam cerita rakyat Kalimantan Tengah, seperti Hampahari yakni persaudaraan, Handep yakni tolong menolong, Belom Bahadat yakni etika, dan Hapakat Kula yakni musyawarah, memiliki relevansi tinggi dalam kehidupan masyarakat, terutama di era digital.

Dalam pemaparannya, Alifiah menjelaskan bahwa cerita rakyat Kalimantan Tengah telah mengalami proses alih wahana, dari yang awalnya diwariskan secara lisan kemudian dibukukan dalam Kumpulan Cerita Rakyat dari Kalimantan Tengah oleh H. Aspul Fansuri, dkk pada 1994. Kini, cerita-cerita tersebut bertransformasi ke dalam bentuk film animasi digital, yang dapat ditemukan di berbagai platform media sosial.

Alih wahana ini, menurut Alifiah, memberikan dampak positif terutama bagi dunia pendidikan. Dengan kehadiran film animasi, guru memiliki cara baru untuk menyampaikan materi cerita rakyat kepada siswa, baik di tingkat sekolah dasar maupun sekolah menengah pertama.

"Siswa tidak lagi terpaku hanya pada buku cerita, tetapi lebih bisa menikmati serta memahami cerita rakyat melalui media yang lebih menarik, yaitu film animasi," ungkapnya.

Filosofi Huma Betang, yang menekankan kebersamaan, toleransi, dan solidaritas, semakin mudah dikenali oleh generasi muda melalui visualisasi dalam film animasi. Penggunaan teknologi ini bukan sekadar hiburan, tetapi juga menjadi strategi dalam menanamkan nilai-nilai budaya yang penting bagi pembentukan karakter anak-anak di era digital.

Diskusi ini merupakan bagian dari upaya HISKI dalam merawat dan mengembangkan sastra daerah di tengah pesatnya perkembangan teknologi. Selain Alifiah, hadir pula narasumber lain seperti Dr. Venus Khasanah dari HISKI UNJ yang membahas Potensi Pantun Sunda Buhun sebagai Objek Kajian Penelitian Sastra, serta Nurul Ludfia Rochman dari HISKI Komisariat Banyuwangi yang mengangkat tema Mengenal Mocoan Gembrung Mondoluko Banyuwangi, Tantangan dan Peluang Revitalisasinya.

“Dengan semakin berkembangnya digitalisasi dalam sastra, pemanfaatan media visual seperti film animasi membuka jalan bagi pelestarian budaya sekaligus peningkatan kualitas pendidikan. Filosofi Huma Betang tetap menjadi fondasi penting dalam membentuk masyarakat yang kuat, tidak hanya secara tradisional tetapi juga di dunia digital yang terus berkembang,“ kata Koordinator Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP, Universitas Palangka Raya ini lagi. (TESTI PRISCILLA/H)