SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit - Menjelang Hari Raya Iduladha 1446 Hijriah, harga daging ayam ras (ayam potong) di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) mengalami penurunan cukup signifikan. Di beberapa pasar tradisional, harga daging ayam saat ini berada di kisaran Rp24 ribu hingga Rp27 ribu per kilogram, dari sebelumnya yang sempat mencapai Rp35 ribu hingga Rp40 ribu per kilogram.

Penurunan harga ini dirasakan langsung oleh para pedagang di pasar tradisional, salah satunya Minah, pedagang ayam potong di Pasar Keramat, Sampit. Ia mengungkapkan bahwa turunnya harga terjadi sejak beberapa hari terakhir.

"Dulu sempat di harga Rp35 ribu hingga Rp40 ribu. Sekarang sudah turun jadi sekitar Rp24 ribu sampai Rp27 ribu per kilogram. Padahal harga normal biasanya sekitar Rp35 ribu," ujar Minah, Minggu, 25 Mei 2025.

Menurutnya, penurunan harga ini dipicu oleh melimpahnya stok ayam potong dari para peternak di wilayah Kotim, serta meningkatnya jumlah pedagang ayam di pasar. Hal ini membuat persaingan semakin ketat dan daya beli masyarakat justru menurun.

"Mending kalau harga turun pembeli ramai, ini malah sepi pembeli. Jadi makin pusing kami pedagang," keluhnya.

Ia menambahkan, menjelang Iduladha biasanya permintaan daging ayam menurun karena masyarakat lebih memilih membeli daging sapi atau kambing untuk kebutuhan kurban. Selain itu, tidak adanya acara hajatan seperti pernikahan juga turut memengaruhi lesunya permintaan.

“Biasanya kalau mendekati Iduladha, jarang ada hajatan. Nanti pas Iduladha juga daging sapi banyak dari kurban, biasanya harga ayam akan makin turun,” ujarnya.

Minah mengaku, saat kondisi pasar ramai, ia mampu menjual hingga satu kuintal ayam potong per hari. Namun saat ini, penjualannya hanya berkisar antara 50 hingga 60 kilogram per hari, bahkan bisa di bawah itu.

“Kalau lagi ramai, satu kuintal bisa habis. Tapi sekarang paling banyak 50 kilogram, itu pun belum tentu habis,” jelasnya.

Ia menyebutkan bahwa daging ayam yang dijualnya berasal dari peternak lokal di wilayah Kotim. Ia berharap harga kembali stabil dan daya beli masyarakat meningkat agar usaha para pedagang dapat terus berjalan.  (Ari/j)