BORNEONEWS, Tamiang Layang – Di RSUD Tamiang Layang, tersimpan kisah luar biasa tentang semangat, pengabdian dan mimpi besar seorang dokter asal Kabupaten Barito Timur. Namanya dr. Metia Gledis Gilang Gentong, Sp.An., dokter spesialis anestesi pertama dan satu-satunya di rumah sakit tersebut.
Belum lama ini, Gledis menorehkan prestasi gemilang, menjadi perwakilan Indonesia sebagai salah satu presentan untuk memaparkan kasus klinis di pertemuan rutin dokter ahli anestesi pediatrik sedunia di Harvard Medical School, Amerika Serikat.
Perjalanannya bukan tanpa liku. Dengan penuh kerendahan hati, Gledis menceritakan awal mula dapat di undang untuk presentasi karena keterlibatannya dalam Global Anaesthesia Mentoring Programme, program mentoring dari World Federation of Societies of Anaesthesiologists (WFSA) yang mempertemukan para dokter anestesi dari seluruh penjuru dunia dengan mentor profesional. Ia terpilih dari Indonesia dan mendapat bimbingan dari seorang mentor asal Inggris.
“Saya mendapatkan tugas selama setahun untuk mengembangkan layanan anestesi di RSUD Tamiang Layang. Targetnya jelas, bagaimana standar layanan anestesi di rumah sakit ini bisa setara dengan rumah sakit terbaik, baik di Indonesia maupun dunia,” tutur Gledis dalam wawancara bersama Borneonews, di sebuah kafe di Tamiang Layang, Minggu, 25 Mei 2025.
Dedikasi itu membuahkan hasil. Tak hanya berhasil mempresentasikan perkembangan program di hadapan forum internasional secara daring, ia juga memperkenalkan RSUD Tamiang Layang kepada dunia.
Di situ pula, Gledis mengangkat kasus unik dan penuh tantangan, tindakan anestesi pada pasien anak di bawah umur yang sedang hamil, sesuatu yang bahkan belum banyak dibahas dalam literatur medis global.
“Saya cari-cari artikel ilmiah, belum ada yang menuliskan secara spesifik tentang pembiusan pada anak bawah umur yang hamil. Padahal ini sangat penting, karena menyangkut dua nyawa sekaligus, ibu dan bayinya. Pasien datang ke rumah sakit karena ingin sehat, jadi bagi saya keselamatan mereka adalah yang utama,” ungkap Gledis, sorot matanya serius.
Kisah dan risetnya menarik perhatian dua profesor dari Boston Children Hospital dan Harvard Medical School. Mereka tertarik untuk membantu lebih dalam terkait kasus yang terjadi di Barito Timur tersebut dan memberi masukan dari perspektif keilmuan mereka.
“Sekarang saya sedang menunggu respons mereka. Harapannya tentu ada kolaborasi lanjutan, agar kita bisa merumuskan panduan anestesi yang lebih aman untuk kasus serupa,” lanjutnya.
Di forum Principles of Pediatric Anesthesia and Critical Care yang digelar di Harvard Medical School, Gledis memaparkan tantangan bekerja sebagai dokter anestesi di daerah terpencil dengan keterbatasan alat dan sumber daya. Meski begitu, ia tetap teguh berpegang pada prinsip profesionalismenya, keselamatan pasien di atas segalanya.
“Kita membius mereka itu bukan sekadar prosedur. Kita mikir keras bagaimana menyelamatkan ibu dan anaknya sekaligus. Dan untuk itu, perlu dukungan dari berbagai pihak, termasuk masyarakat,” tegasnya.
Kisah Gledis tak hanya tentang ilmu pengetahuan, tapi juga tentang keberanian mengangkat isu sensitif di dunia medis. Menurutnya, kasus kehamilan anak di bawah umur bukan semata tantangan medis, tapi juga persoalan sosial yang harus dicegah.
“Harapan saya, selain menemukan metode pembiusan yang tepat, ini juga menjadi bentuk edukasi bagi masyarakat. Hamil di bawah umur harus dicegah karena sangat berisiko bagi keselamatan jiwa,” ujarnya.
Keberangkatan Gledis ke Amerika Serikat mendapat dukungan penuh dari Direktur RSUD, Sekda, Bupati, dan Wakil Bupati Barito Timur. Selain itu, hasil dari program mentoring juga membawa berkah lain berupa bantuan alat kesehatan dari Yayasan Satriabudi Dharma Setia.
Tak berhenti di sana, Gledis kini tengah menyusun panduan praktik klinis pembiusan aman bagi pasien anak yang hamil, dibantu mentornya dari Inggris dan UGM. Panduan ini diharapkan bisa menjadi referensi penting bagi tenaga medis, terutama di wilayah terpencil.
Perjalanan akademik Gledis pun tak kalah inspiratif. Ia menamatkan pendidikan kedokteran di Universitas Gadjah Mada pada 2012. Setelah mengabdi selama bertahun-tahun di Barito Timur, ia kembali ke almamaternya untuk menempuh pendidikan spesialis anestesi pada 2017, dan lulus pada 2022.
Lahir dari pasangan Brigong Tom Moenandaz dan Semat Estik, Gledis tak hanya membawa nama baik keluarga dan daerah, tapi juga menyalakan harapan bahwa dari pelosok negeri pun, suara dan gagasan bisa menggema hingga panggung dunia.
“Semoga ini menjadi titik balik. Saya ingin masyarakat tahu bahwa RSUD Tamiang Layang terus berupaya meningkatkan kualitas pelayanan. Kita bisa sejajar, asal kita mau bergerak bersama,” pungkasnya, penuh semangat.
Kisah ini adalah cerminan nyata bahwa keterbatasan bukan penghalang untuk bermimpi besar. Gledis membuktikan bahwa dari Barito Timur, langkah kecil bisa menjangkau Harvard, dan suara dari pedalaman bisa mengguncang dunia. (AGUSTINUS BOLE MALO/R)









