SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit – Minggu pagi, 25 Mei 2025, suasana Taman Kota Sampit tak seperti biasanya. Di tengah lalu lalang warga yang sedang berolahraga dan berburu kuliner, sekelompok anak muda hadir dengan semangat berbeda.

Bukan untuk bersantai atau berbelanja, melainkan membawa pesan penting tentang kebersihan dan kepedulian terhadap lingkungan.

Seorang pemuda berjaket denim berdiri di bawah tugu besar Taman Kota Sampit. Ia menggenggam mikrofon dan berbicara lantang yang terdengar melalui speaker nirkabel.

Di sekitarnya, pemuda lain memasang tali untuk memajang gambar bertema lingkungan karya anak-anak, sementara beberapa lainnya mengeluarkan kantong-kantong sampah dari kemasannya.

“Pagi ini kita bersama-sama mengajak seluruh pengunjung untuk melihat sampah-sampah atau plastik-plastik yang ada di sekitar Taman Kota Sampit. Mari kita buang ke tempat sampah terdekat. Kami juga akan berkeliling membawa kantong-kantong sampah,” ajak pria berjaket denim, memantik kesadaran pengunjung yang melintas.

Aksi ini bukan sekadar aksi bersih-bersih. Gerakan ini disebut Basimpun Baimbai yang dalam Bahasa Indonesia berarti bersih-bersih bersama.

Gerakan tersebut diinisiasi Komunitas Ecoality People, kelompok pemuda Sampit yang sejak 2020 konsisten menyuarakan pentingnya menjaga lingkungan.

Hendrik, Ketua Komunitas Ecoality People menjelaskan, komunitas ini lahir dari rasa resah terhadap kondisi lingkungan, terutama di daerah yang dikenal sebagai bagian dari paru-paru dunia, Kalimantan.

“Ecoality people ini tidak jauh dari inisiatif pemuda Sampit yang resah dengan keadaan lingkungan dimana Kalimantan sebagai maskot dunia, paru-paru dunia. Kalau lingkungannya tidak terjaga bagaimana kedepannya? Bagaimana nasib anak cucu kita nanti?” kata Hendrik.

Pada awal berdiri, komunitas Ecoality People memulai dari aksi kecil membersihkan bantaran sungai di Jalan Panjaitan. Dalam akun instagram mereka ecoality.people merekam berbagai aksi nyata peduli lingkungan yang telah dijalankan.

Mereka pernah bekerja sama dengan pemerintah desa untuk membersihkan lingkungan, kampanye bersih lingkungan melalui event lari, edukasi lingkungan melalui talkshow, bahkan pada peringatan hari bumi tahun lalu berkolaborasi dengan berbagai komunitas mengkampanyekan bumi bukan tempat sampah.

Hendrik menjelaskan, aksi bertajuk Basimpun Baimbai yang pertama kali digelar di Taman Kota Sampit kali ini murni swadaya lintas komunitas. Mulai dari mentaya membaca, teras baca merdeka, jingga artclass, anak anak scooter Sampit, kedai kopi oase, kedai prapatan, scena punk sampit, dan komunitas ketuju behayau.

Mereka menyebar di Taman Kota Sampit membawa kantong sampah dan memungut sampah berserakan. Juga mengajak pengunjung membuang sampah pada tempatnya, agar salah satu ikon Kota Sampit itu tetap bersih dan indah. 

Mereka menyuarakan agar masyarakat memahami bahwa kebersihan lingkungan bukan hanya tanggungjawab pemerintah daerah melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH). Masyarakat dapat membantu dengan cara sederhana yakni membuang sampah pada tempatnya.

"Kami memilih Taman Kota Sampit karena di sini ruang lingkup warga untuk berolahraga karena sebagai pusat car free day. Apalagi di sini juga tempat kuliner warga sampit kami rasa ini tempat yang cocok untuk menyuarakan agar masyarakat turut peduli lingkungan," ujarnya. 

Melihat aksi mereka, sejumlah pengunjung bahkan ikut turun tangan. Ada yang membantu mengumpulkan sampah, ada pula yang sekadar mengapresiasi dan membuang sampah bekas makanan ke kantong sampah yang dibawa anggota komunitas. 

Hendrik berharap dimulai dari Taman Kota Sampit, suara mereka didengar dan membangun kebiasaan masyarakat semakin peduli lingkungan. Apalagi persoalan sampah menjadi masalah serius di wilayah ini dan kerap kali memicu bencana banjir. 

"Kami berharap pemuda-pemudi Sampit dan komunitas-komunitas yang lain turut peduli dan perhatian terhadap keadaan lingkungan di Kota Sampit. Karena kalau bukan kita siapa lagi yang menyuarakan dan mengajarkan anak-anak kita untuk peduli lingkungan," tambahnya.

Gerakan bertajuk Basimpun Baimbai direncanakan rutin digelar di Taman Kota Sampit. Agar lebih banyak masyarakat menyadari pentingnya menjaga kebersihan lingkungan.

Ia berharap Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kotawaringin Timur (Kotim) turut memberikan perhatian akan gerakan ini agar lebih luas dan masif membantu mengatasi persoalan sampah di bumi Habaring Hurung. (DEWI PATMALASARI/R)