BORNEONEWS, Sampit - Menjelang Hari Raya Iduladha, peternak sapi lokal di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) mengeluhkan menurunnya penjualan hewan kurban secara signifikan. Supriyadi, salah satu peternak asal Sampit, menyebut tahun ini ia hanya mampu menjual tiga ekor sapi, jauh menurun dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai 15 ekor.
“Kalau melihat tren dari tahun ke tahun, penjualan hewan kurban memang terus menurun. Salah satu penyebabnya adalah membanjirnya sapi dari luar daerah yang masuk ke Kotim,” ujar Supriyadi, Senin, 26 Mei 2025.
Ia menuturkan bahwa kondisi ini tidak hanya dirasakannya seorang diri, tetapi juga dialami oleh banyak peternak lokal lainnya. Masuknya sapi dari luar daerah disebut menjadi faktor utama yang membuat konsumen beralih dari sapi lokal ke sapi luar.
“Peternak lokal banyak yang mengeluh karena pembeli lebih memilih sapi dari luar. Padahal dari segi kesehatan, sapi lokal lebih kuat dan harganya juga relatif lebih terjangkau,” jelasnya.
Supriyadi mengaku khawatir kondisi ini akan berdampak serius terhadap kelangsungan usaha peternak lokal jika tidak segera diatasi. Ia meminta pemerintah daerah untuk membuat regulasi yang lebih ketat dalam mengatur distribusi sapi kurban dari luar daerah.
“Sudah seharusnya ada pengawasan yang lebih jelas. Misalnya, pemerintah bisa mewajibkan penerima sapi kurban dari luar daerah untuk mendaftarkan siapa penerimanya, di mana lokasinya, serta kandangnya. Dengan begitu, pergerakan sapi bisa dipantau,” katanya.
Ia juga menyoroti kekhawatiran akan kualitas kesehatan sapi dari luar daerah. Meskipun telah melalui pemeriksaan, menurutnya tidak mungkin seluruh sapi yang masuk diperiksa satu per satu secara mendalam.
“Kami tahu sapi luar itu kebanyakan datang ke sini dalam kondisi stres, bahkan ada yang terkena penyakit seperti Penyakit Mulut dan Kuku (PMK). Ini tentu berisiko,” tegasnya.
Lebih lanjut, Supriyadi menyebut bahwa hingga saat ini dukungan pemerintah daerah terhadap peternak lokal masih minim. Ia mengaku belum pernah mendapatkan bantuan berupa pelatihan maupun permodalan.
“Saat ini, bantuan dari pemerintah hanya sebatas pemeriksaan kesehatan hewan. Padahal kami butuh pelatihan, pendampingan, bahkan akses permodalan,” imbuhnya.
Sebagai upaya menyiasati sepinya penjualan, Supriyadi memutuskan untuk menahan sapi yang tidak terjual untuk dijual pada tahun mendatang. Ia berharap pemerintah daerah segera mengambil langkah konkret untuk melindungi keberlangsungan usaha peternak lokal di Kotim.
“Kami berharap ada tindak lanjut yang nyata. Kalau kondisi ini terus dibiarkan, bukan tidak mungkin peternak sapi lokal akan gulung tikar,” pungkasnya. (Ari/j)









