BORNEONEWS, Sampit – Anjloknya harga sarang burung walet dalam dua tahun terakhir berdampak signifikan terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah.
"Harga sarang walet turun drastis. Infonya saat ini hanya sekitar Rp7 juta per kilogram, jauh dibandingkan harga tahun-tahun sebelumnya yang infonya sampai Rp12 juta per kilogram," kata Kepala Badan Pengelolaan Pendapat Daerah (Bappenda) Kotim, Ramadansyah, Senin, 26 Mei 2025.
Penurunan harga ini berdampak langsung pada penerimaan pajak sarang walet, yang sebelumnya menjadi salah satu kontributor penting PAD Kotim. Pada tahun 2024, target pajak sarang walet sebesar Rp560.000.000 hanya terealisasi Rp345.828.160 atau 61,76 persen.
Kondisi ini berlanjut pada tahun 2025, di mana target Rp250 juta hingga saat ini baru terealisasi Rp134.268.250 atau 53,71 persen. Penurunan target pada tahun 2025 mencerminkan antisipasi terhadap lesunya harga sarang walet.
Meskipun sebelumnya pemerintah telah berupaya meningkatkan kepatuhan pajak dengan menurunkan tarif pajak dari 10 persen menjadi 5 persen pada Januari 2019, anjloknya harga sarang walet tetap memberikan tekanan terhadap PAD.
--page
Pajak sarang walet diterapkan dengan asas 'self assessment' yakni wajib pajak menghitung, menetapkan dan menyetor sendiri pajak yang menjadi kewajiban mereka. Sistem ini bertujuan agar pengusaha bisa dengan kesadaran sendiri dan tidak terbebani dalam membayar pajak.
"Turunnya harga ini tentu turut berdampak terhadap pendapatan daerah. Mudah-mudahan saja harga segera kembali membaik sehingga pajak yang diterima daerah juga meningkat signifikan," terangnya.
Belum ada kepastian kapan harga sarang walet akan kembali pulih, namun semua pihak berharap peningkatan harga akan berdampak positif terhadap perekonomian Kotim. (DEVIANA/Y)









