SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit – Camat Baamang, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) Sufiansyah menanggapi terkait ketegangan yang terjadi antara pedagang Pasar Keramat dan pedagang kaki lima (PKL) di Baamang.  Menurutnya upaya yang dilakukan adalah merangkul para PKL tersebut bukan mengusir. 

"Kami tidak ingin ini menjadi konflik.  Yang kami harapkan, para pedagang bisa diajak bicara dari hati ke hati. Kita tawarkan solusi, bukan ancaman," tegas Sufiansyah usai rapat penataan pasar, Kamis, 29 Mei 2025.

Sufiansyah memahami alasan PKL berjualan di trotoar dan drainase. Menurutnya, sebagian besar dari mereka adalah ibu rumah tangga yang hanya ingin menambah penghasilan keluarga, namun ia mengakui keberadaan PKL menimbulkan permasalahan bagi pedagang resmi di pasar. 

"Ada pemilik rumah yang menyewakan lahan di atas fasilitas umum. Mereka seolah dapat untung ganda, sementara pedagang tetap berjualan dalam kondisi tidak layak," tambahnya.

Oleh sebab itu, menurutnya PKL tersebut perlu dirangkul dan diberi tempat agar mereka juga dapat berjualan membantu kebutuhan rumah tangga. 

Sebagai contoh keberhasilan pendekatan humanis ini, Sufiansyah menunjuk kasus pemotongan ayam ilegal di Jalan Cilik Riwut, Baamang Barat.

"Setelah dilakukan pendekatan dan teguran, pelaku akhirnya bersedia membongkar sendiri tempat usahanya," ujarnya.

Langkah selanjutnya pihak kecamatan dan kelurahan akan mendata dan mengajak PKL untuk menempati kios yang telah disiapkan pemerintah daerah. 

"Kami tahu ini tidak mudah. Tapi kalau pendekatannya tepat, hasilnya bisa lebih baik. Ini bukan sekadar penertiban, tapi bagaimana kita menata kota tanpa melukai warga kecil," pungkas Sufiansyah. 

Ia menekankan bahwa penataan kota harus dilakukan dengan bijak dan mempertimbangkan kesejahteraan masyarakat. (DEVIANA/R)