BORNEONEWS, Sampit - Sekelompok pemuda tengah berbincang malam itu di sebuah tempat yang dipenuhi rak-rak yang terpajang aneka produk jajanan dan kerajinan. Salah satu dari mereka tampak berkutat dengan komputer jinjing di sudut ruangan.
Para pemuda itu sedang memikirkan agar tempat yang disebut Swalayan UMKM Sampit ini lebih maju dan berkembang.
Swalayan UMKM yang digagas Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kotawaringin Timur (Kotim) kini diamanatkan kepada 5 pemuda yang secara sukarela mengemban tugas memajukan rumah besar bagi para pelaku usaha lokal tersebut.
Suasana jauh berbeda nampak di tempat yang tak jauh dari Taman Kota Sampit itu sejak pertama diluncurkan pada Desember 2024. Dulu, terdapat puja sera yang kini dipindahkan ke kawasan Eks Mentaya. Sehingga bangunan besar di Jalan Yos Sudarso itu kini fokus mengelola produk jajanan UMKM dan kerajinan sesuai semboyannya 'pusat jajanan dan oleh-oleh'.
Berbagai hal besar mencuat dari isi kepala para pemuda untuk membesarkan Swalayan UMKM di masa depan. Bukan sekadar tempat jual beli, tempat ini diarahkan menjadi wadah edukasi bagi para pelaku UMKM dan pelajar dari jenjang SD, SMP, SMA hingga mahasiswa.
"Swalayan UMKM ini adalah pusat pemasaran dan juga etalase produk-produk lokal unggulan yang kita kelola secara kolektif. Di mana tujuannya adalah memberikan ruang yang layak, strategis dan berkelanjutan bagi pelaku UMKM yang ada di Kotim. Ini bukan sekedar tempat berjualan tetapi juga merupakan simbol kolaborasi, kemandirian ekonomi dan juga kebanggaan atas produk lokal daerah kita sendiri," kata Sardi Fakhri R yang kini ditunjuk sebagai ketua pengelola Swalayan UMKM Sampit, Jumat, 30 Mei 2025.
Bukan tanpa sebab, para pemuda tergerak mengelola Swalayan UMKM tanpa gaji. Motivasi besar mereka bersumber dari sebuah kepercayaan bahwa masa depan UMKM adalah masa depan daerah.
Menurut Fakhri, pemuda tidak hanya menjadi penonton tetapi juga harus menjadi pelaku langsung dalam pembangunan ekonomi lokal. Sehingga mereka tergerak ikut andil dalam perkembangan UMKM di daerah kita melalui Swalayan UMKM.
"Kami juga ingin membuktikan bahwa anak muda juga bisa menjadi motor penggerak kemajuan UMKM dengan ide-ide segar, cara kerja yang adaptif dan semangat kolaboratif," ujarnya.
Lanjut Fakhri, Swalayan UMKM akan terus dikembangkan sebagai pusat promosi dan distribusi produk lokal yang profesional dan berstandar agar dikenal luas baik di dalam maupun beli luar daerah. Ia percaya produk-produk UMKM Kotim bisa bersaing di pasar digital dan nasional.
Dirinya juga menargetkan pengembangan sistem kurasi produk untuk menjaring olahan UMKM dari 17 Kelurahan dan 168 desa di Kotim. Serta pelatihan rutin akan terus pihaknya adakan agar UMKM Kotim naik kelas.
Di tengah ekonomi yang tak menentu, Fakhri mengajak pelaku UMKM Kotim terus semangat berkarya terus dan berinovasi. Produk lokal mempunyai potensi besar asal dikelola dengan serius dan terbuka masukan serta kritik.
"Swalayan UMKM ini adalah milik kita bersama mari kita menjadikan ini rumah besar yang memperkuat ekonomi kerakyatan dan memperluas jangkauan pasar. Satu hal yang pasti UMKM kotim bisa naik kelas kalau kita saling berkolaborasi dan bergerak bersama demi kemajuan produk-produk unggulan yang ada di Kotim," tuturnya.
Lebih lanjut, Fakhri yang kini dipercaya menahkodai Swalayan UMKM sangat bersyukur dan berterima kasih kepada Pemkab Kotim yang memberikan wadah dan difasilitasi untuk pemuda-pemuda memajukan UMKM.
"Tentunya dukungan dari pemerintah daerah sangat kita harapkan, kemudian juga kepada anggota DPRD yang mewakili yang berkepentingan untuk memajukan UMKM Kotim kami sangat berharap kolaborasinya untuk memajukan UMKM. Kemudian para mitra yang juga punya konsen yang sama terhadap UMKM di Kotim kami sangat menunggu kolaborasinya untuk memajukan produk-produk Lokal unggulan di Kotim," katanya.
Sementara itu, Nurifa, yang juga salah satu pengelola Swalayan UMKM mengatakan, tempat tersebut bukan sekedar menjual produk UMKM tetapi menjadikan tempat edukasi baik itu UMKM ataupun pelajar-pelajar dari SD SMP, SMA bahkan hingga mahasiswa. Sebab menurutnya, banyak kerajinan tangan asli daerah belum ada regenerasinya. Sehingga generasi muda bisa mempelajari itu agar kerajinan lokal tetap lestari.
Tempat ini juga akan menjadi tempat edukasi pelaku UMKM agar naik kelas. Pihaknya telah bekerjasama dengan BUMN, pihak swasta, dan perusahaan yang memiliki tujuan membina UMKM.
"Entah itu dari pembinaannya mengenai bagaimana cara memproduksi yang baik dan benar atau dari kemasannya. Kebetulan sekarang untuk kemasan sekitar 50 persen produk di Swalayan UMKM sudah mulai naik kelas, bukan lagi yang polosan. Lalu di sini juga alhamdulillah sudah sekitar 99 persen produk yang sudah berizin, satu persennya masih dalam tahap proses perizinan," ujar Nurifa.
Dirinya yang telah terlibat pengelolaan Swalayan UMKM sejak awal berdiri tersebut mengakui berbagai kemajuan di tempat tersebut. Kini semakin banyak produk UMKM masuk, bahkan pelaku UMKM yang turut berkolaborasi di dalamnya kerap kali ngopi santai bersama bertukar pikiran di tempat tersebut.
Selain produk kerajinan dan jajanan, juga tersedia Cafe Swalayan sebagai pelengkap tempat bersantai sembari pengunjung berbelanja. Juga terdapat tempat pertemuan yang luas, terbuka bagi siapa saja yang ingin menggelar berbagai kegiatan di rumah besar para pelaku UMKM tersebut.
Swalayan UMKM juga terus berinovasi dalam pemasaran. Kini promosi digital terus direncanakan melalui sosial media instagram dan facebook. Strategi ini menurut Nurifa sangat berengaruh terhadap jumlah pengunjung. Banyak masyarakat yang aktif di sosial media mengetahui keberadaan Swalayan UMKM melalui konten-konten yang diunggah melalui akun instagram @swalayanumkmsampit.
"Kita memiliki media sosial untuk promosi kita sudah punya Instagram Facebook dan kita juga akan mengarah ke penjualan secara online. Salah satunya strategi kita misalnya ada beberapa promo setiap hari Minggu misalnya beras tebus murah. Ini juga memancing pengunjung datang, selain membeli produk yang promo mereka juga akan berbelanja produk UMKM serta mengenal tempat ini sebagai pusat jajanan dan oleh-oleh," tandasnya. (DEWI PATMALASARI)









