BORNEONEWS, Sampit - Penutupan jalan perusahaan sawit PT Mulia Agro Permai (MAP) Kilometer 18 Kelurahan Pasir Putih, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, akibat panen sawit massal atau penjarahan di wilayah tersebut memunculkan dampak sosial dan ekonomi bagi masyarakat, Khususnya Desa Palangan.
Disebutkan dalam surat PT MAP yang ditujukan kepada Camat Kota Besi dan Kepala Desa Palangan, tertanggal 15 Mei 2025, bahwa penutupan jalan tersebut karena situasi kondisi di PT MAP kebun timur yang masuk wilayah hukum dan administrasi mencakup wilayah Kecamatan Kota Besi terjadi klaim lahan dan disertai penjarahan massal di kebun sawit perusahaan.
Informasi yang didapat bornoenews.co.id, lahan yang diklaim warga dan sawitnya dijarah sekitar 300 hektare. Di antara lahan milik PT MAP itu juga ada yang disita oleh Tim Penertiban Kawasan Hutan atau Tim PKH.
Akibat kondisi tersebut akses jalan Km 18 dan ujung MR 12 dimana jalan PT MAP tersebut menghubungkan jalan aspal KM 18 menuju Desa Palangan untuk sementara dilakukan pemutusan total. Sehingga masyarakat Desa Palangan harus memutar menggunakan Jalan PT NSP jika ingin menuju ke Sampit.
Kades Palangan Anastasius Delik membenarkan adanya penutupan jalan PT MAP tersebut. Hal tersebut sudah berlangsung lama. Delik menyebut, penutupan jalan diperkirakan mulai tanggal 16 Mei 2025.
"Terkait dengan akses jalan dari desa Palangan ke Sampit melalui PT MAP memang sampai sekarang belum dibuka karena dari pihak kepolisian masih belum memberikan rekomendasi untuk dibuka," kata Delik.
Pihak desa berupaya agar jalan tersebut dibuka. Namun karena situasi masih dianggap belum kondusif sehingga akses jalan belum bisa dibuka.
Lanjut Delik, pihaknya ingin mengajukan jalan alternatif. Sehingga dirinya akan bersurat kepada Kapolres Kotawaringin Timur dan manajemen PT MAP untuk duduk bersama membahas tentang pembukaan jalan atau jalur alternatif untuk jalan masyarakat.
Ia menyebut, penutupan jalan sangat berimbas terhadap masyarakat. Jalan tersebut merupakan jalan tercepat masyarakat dari Desa Palangan menuju Sampit. Sehingga terkendalanya aktivitas masyarakat berdampak pada kehidupan sosial dan ekonomi.
"Karena kita menganggapnya itu jalan terdekat. Kalau sekarang kita akses jalan itu menggunakan akses jalan PT NSP ya tentu agak muter dan agak jauh dari Sampit," tambahnya.
Biasanya akses jalan melalui PT MAP tersebut digunakan masyarakat untuk belanja, ke rumah sakit dan sebagainya dengan waktu tempuh yang relatif lebih cepat.
"Jalan ini juga merupakan jalur terdekat bagi masyarakat desa sekitar terkhusus Desa Kenyala, Desa Simpur, dan desa-desa yang ada di Kecamatan Mentaya Hulu. Karena notaben jalan ini kan merupakan akses terdekat seperti itu," tandasnya. (DEWI PATMALASARI/j)









