PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Anggota Komisi II DPRD Palangka Raya, Yudhi Karlianto Manan, menyoroti persoalan harga pakan ternak yang dinilai masih menjadi tantangan besar bagi peternak unggas lokal. 

Ia menyebut, mahalnya harga pakan berdampak langsung terhadap biaya produksi dan daya saing peternak di pasar.

Menurut Yudhi, peternak unggas lokal masih mengandalkan pasar tradisional sebagai tempat utama untuk menjual hasil ternaknya, seperti ayam kampung dan itik. Namun tingginya biaya pakan membuat margin keuntungan semakin kecil.

“Harga pakan menjadi beban utama bagi peternak unggas. Ini tantangan serius yang bisa mempengaruhi keberlangsungan usaha peternakan, khususnya yang berskala kecil dan menengah,” ujar Yudhi, Senin, 2 Juni 2025.

Ia menambahkan, unggas lokal seperti ayam kampung masih diminati masyarakat dan banyak dijual di pasar-pasar tradisional. 

“Jika pakan terus mahal, maka harga jual ayam lokal bisa ikut naik. Ini tentu menyulitkan baik bagi peternak maupun konsumen,” tambahnya.

Yudhi mendorong pemerintah daerah melalui dinas terkait untuk mencari solusi konkret, seperti mendorong penggunaan pakan alternatif, memberikan subsidi pakan, atau membuka akses kemitraan peternak dengan perusahaan pakan.

“Kita perlu program yang meringankan beban peternak. Bisa lewat pelatihan membuat pakan mandiri atau kerja sama penyediaan bahan baku pakan dengan harga terjangkau,” tegasnya.

Ia juga berharap peternak unggas lokal terus mendapat dukungan agar tetap berdaya saing di tengah tantangan ekonomi dan fluktuasi harga bahan produksi. (MARINI/j)