PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya – Plt Direktur RSUD Doris Sylvanus, Suyuti Syamsul, mengungkapkan bahwa krisis keuangan yang melanda rumah sakit tersebut hingga menumpuk utang Rp120 miliar disebabkan oleh kesalahan manajemen sebelumnya.

Suyuti menyebut terjadi ketidakteraturan dalam tata kelola, khususnya terkait efisiensi dan pembiayaan, sehingga utang rumah sakit menumpuk.

“Intinya ini karena miss manajemen, sekarang kita coba perbaiki menjadi lebih transparan, lebih terkendali,” kata Suyuti Syamsul di Palangka Raya, Senin, 2 Juni 2025.

Salah satu bentuk pemborosan yang ditemukan adalah pengeluaran honor besar-besaran. Seperti untuk tugas pokok yang seharusnya tidak perlu mendapat honor sampai anggaran mengikuti kegiatan yang tidak berkaitan langsung dengan pelayanan.

"Totalnya sekitar Rp4-6 miliar setahun hanya untuk honor honor. Ini kita pangkas," tegas Suyuti.

--page

Selain itu, jumlah pegawai kontrak yang terlalu banyak menyebabkan biaya tetap rumah sakit membengkak dan membebani anggaran.

Langkah awal yang dilakukan Suyuti adalah menghentikan rekrutmen baru serta mengimplementasikan sistem kemitraan.

Ia juga memotong 30 persen insentif pejabat dan memangkas honor kegiatan untuk mengalihkan dana ke pembayaran utang.

“Kami efisiensi bisa sampai Rp10 miliar lebih, dengan menuntaskan utang tahun sebelumnya, tahun ini bakal tetep ada utang tapi lebih kecil. Dengan progres yang baik seperti sekarang saya bisa pastikan di akhir tahun depan sudah bisa keluar dari krisis,” ujarnya. (HERMAWAN DP/y)