BORNEONEWS, Sampit – Ketua DPRD Kotawaringin Timur (Kotim) Rimbun meminta pemerintah daerah untuk mencarikan solusi atas minimnya fasilitas pemadam kebakaran (damkar) di wilayah pelosok Kotim. Hal ini disampaikan menyusul peristiwa kebakaran yang menghanguskan bangunan pasar dan polindes di Desa Tumbang Torung, Kecamatan Bukit Santuai, pada Jumat, 30 Mei 2025.
“Yang pasti memang kekuatan atau kemampuan keuangan kita di Kotim sangat terbatas. Namun kita serahkan dengan pemerintah daerah yaitu Bupati bagaimana Secara teknis dan dinas terkait untuk bisa memperhatikan itu,” kata Rimbun, Senin, 2 Juni 2025.
Lanjutnya, jika dinilai mendesak maka pemerintah daerah harus segera membantu paling tidak untuk membangun Polindes.
Sementara terkait sarana prasarana pemadam kebakaran, ia menegaskan pemerintah daerah menyesuaikan dengan kemampuan daerah. Memang dari 17 kecamatan, 17 kelurahan, dan 168 desa di Kotim, belum semua memiliki akses terhadap fasilitas damkar. Baru 5 kecamatan yang mendapat fasilitas pos pemadam kebakaran. Karena anggaran untuk memenuhi fasilitas itu sangat besar.
"Secara teknis kami persilahkan pemerintah daerah untuk bagaimana bisa mengambil suatu kebijakan untuk memberikan solusi dan juga mengakomodir apa yang diinginkan oleh aparatur desa maupun masyarakat yang ada di daerah setempat," tandasnya.
--page
Sebelumnya, insiden kebakaran terjadi di Desa Tumbang Torung, Kecamatan Bukit Santuai. Api menghanguskan bangunan polindes dan pasar yang sudah beralih fungsi menjadi tempat tinggal warga. Kebakaran terjadi sekitar pukul 15.00 WIB, diduga akibat korsleting dari lampu tenaga surya.
Kepala Desa Tumbang Torung, Sabandi, membenarkan kejadian tersebut. Ia menjelaskan bahwa pasar yang dibangun sejak 2008 itu tidak pernah digunakan sebagaimana rencana awal, sehingga beberapa warga memanfaatkannya sebagai hunian.
“Api berasal dari korsleting lampu tenaga surya yang digunakan warga. Karena lokasi desa sangat jauh dari kecamatan maupun kabupaten, tidak ada bantuan damkar yang datang,” ujar Sabandi, Sabtu, 31 Mei 2025.
Dalam situasi darurat tersebut, warga hanya bisa mengandalkan alat seadanya untuk mencegah api merembet ke rumah-rumah lainnya. Akibatnya, bangunan pasar dan polindes ludes terbakar, meski beruntung api tidak menjalar ke bangunan lain.
Sabandi menyebut tidak ada korban jiwa, namun tiga kepala keluarga terdampak dan kini tinggal sementara di rumah kerabat.
Ia berharap adanya bantuan dari pemerintah, terutama berupa alat pemadam kebakaran, mengingat lokasi desa yang jauh dari pusat kecamatan dan kabupaten.
“Kami sangat butuh peralatan pemadam. Karena jarak yang jauh, kalau hanya mengandalkan bantuan luar sangat sulit dan tidak memungkinkan jika ada bencana kebakaran seperti ini,” tandasnya. (DEWI PATMALASARI/Y)









