PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Kelompok makanan, minuman, dan tembakau di Provinsi Kalimantan Tengah mengalami deflasi sebesar 0,73 persen secara year-on-year atau y-on-y pada Mei 2025. Indeks harga kelompok ini turun dari 111,65 pada Mei 2024 menjadi 110,84 pada Mei 2025.

Kepala Badan Pusat Statistik atau BPS Kalimantan Tengah, Agnes Widiastuti, menyebut bahwa penurunan harga ini terutama dipengaruhi oleh subkelompok makanan yang mengalami deflasi tertinggi sebesar 2,01 persen.

Sementara itu, subkelompok minuman yang tidak beralkohol mengalami inflasi tertinggi sebesar 6,46 persen.

"Perubahan harga ini menunjukkan dinamika pasar yang dipengaruhi oleh pasokan dan permintaan masyarakat, terutama terhadap bahan pangan," ujar Agnes Widiastuti pada Selasa, 3 Juni 2025.

Secara y-on-y, kelompok makanan, minuman, dan tembakau memberikan sumbangan deflasi sebesar 0,29 persen terhadap indeks harga di Kalimantan Tengah.

Beberapa komoditas yang dominan memberikan andil terhadap deflasi y-on-y antara lain daging ayam ras sebesar 0,73 persen, tomat sebesar 0,15 persen, ikan nila sebesar 0,14 persen, dan bawang merah sebesar 0,11 persen. Selain itu, beras dan ikan papuyu masing-masing berkontribusi 0,08 persen dan 0,05 persen terhadap deflasi.

"Harga daging ayam ras yang turun cukup signifikan menjadi salah satu faktor utama terjadinya deflasi," jelas Agnes.

Sebaliknya, beberapa komoditas mengalami inflasi y-on-y, seperti Sigaret Kretek Mesin (SKM) dan ikan gabus yang masing-masing menyumbang 0,17 persen inflasi. Komoditas lain yang turut berkontribusi terhadap kenaikan harga adalah kopi bubuk, minyak goreng, dan cabai rawit.

"Kenaikan harga beberapa komoditas ini dipengaruhi oleh faktor produksi dan distribusi," tambahnya.

Secara month-to-month atau m-to-m, kelompok makanan, minuman, dan tembakau mengalami deflasi sebesar 0,58 persen pada Mei 2025. Komoditas yang dominan memberikan andil deflasi secara bulanan di antaranya cabai rawit sebesar 0,21 persen, ikan gabus sebesar 0,17 persen, serta bawang merah dan ikan nila masing-masing sebesar 0,05 persen.

Namun, ada pula komoditas yang mengalami inflasi secara bulanan, seperti tomat dengan sumbangan inflasi sebesar 0,02 persen, serta ketimun, ikan baung, mie kering instan, dan kacang panjang yang masing-masing berkontribusi sebesar 0,01 persen.

"Fluktuasi harga komoditas ini menjadi perhatian dalam menjaga stabilitas ekonomi daerah," pungkas Agnes Widiastuti. (TESTI PRISCILLA/H)