BORNEONEWS, Palangka Raya - Kelompok kesehatan di Provinsi Kalimantan Tengah mengalami inflasi year-on-year atau y-on-y sebesar 2,20 persen pada Mei 2025. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik atau BPS Kalimantan Tengah, indeks kelompok ini meningkat dari 102,35 pada Mei 2024 menjadi 104,60 pada Mei 2025.
Kepala BPS Kalimantan Tengah, Agnes Widiastuti, menjelaskan bahwa seluruh subkelompok dalam kelompok kesehatan mengalami inflasi.
"Subkelompok jasa kesehatan lainnya mencatat angka inflasi tertinggi sebesar 9,89 persen, menunjukkan adanya peningkatan signifikan dalam layanan kesehatan yang diberikan kepada masyarakat," kata Agnes pada Selasa, 3 Juni 2025.
Lebih lanjut, Agnes mengungkapkan bahwa kelompok kesehatan memberikan andil inflasi y-on-y sebesar 0,05 persen terhadap inflasi keseluruhan di Kalimantan Tengah pada Mei 2025. Beberapa komoditas yang paling berkontribusi terhadap kenaikan harga dalam kelompok ini adalah tarif rumah sakit yang menyumbang inflasi sebesar 0,02 persen dan tarif pemeriksaan kesehatan (check-up) sebesar 0,01 persen.
Namun, dalam skala month-to-month atau m-to-m, kelompok kesehatan tidak memberikan andil yang signifikan terhadap inflasi.
"Kondisi ini menunjukkan bahwa meskipun ada kenaikan harga di beberapa sektor kesehatan secara tahunan, dampak perubahan harga dari bulan ke bulan relatif stabil," ujar Agnes.
Agnes juga menekankan perlunya kebijakan yang dapat menjaga stabilitas harga layanan kesehatan agar tetap terjangkau bagi masyarakat. Menurutnya, peran pemerintah dan stakeholder terkait sangat penting dalam memastikan akses layanan kesehatan tetap optimal tanpa membebani daya beli masyarakat.
Dengan adanya data ini, diharapkan pemerintah dan pelaku sektor kesehatan dapat terus memantau serta mengantisipasi faktor-faktor yang mempengaruhi harga, sehingga inflasi di sektor ini dapat dikendalikan demi kesejahteraan masyarakat Kalimantan Tengah. (TESTI PRISCILLA/j)









