BORNEONEWS, Palangka Raya - Pada Mei 2025, kelompok transportasi di Provinsi Kalimantan Tengah mengalami deflasi year-on-year atau y-on-y sebesar 1,37 persen. Hal ini ditandai dengan penurunan Indeks Harga Konsumen atau IHK dari 111,28 pada Mei 2024 menjadi 109,75 pada Mei 2025. Meskipun terjadi deflasi dalam kelompok ini, tidak semua subkelompok mengalami tren yang sama.
"Dari empat subkelompok dalam kelompok transportasi, satu subkelompok mengalami deflasi, sementara tiga subkelompok mengalami inflasi. Subkelompok yang mengalami deflasi adalah jasa angkutan penumpang, dengan penurunan yang cukup signifikan sebesar 14,32 persen," kata Kepala BPS Kalteng, Agnes Widiastuti pada Selasa, 3 Juni 2025.
Sementara itu, subkelompok yang mengalami inflasi mencakup pembelian kendaraan sebesar 2,61 persen, pengoperasian peralatan transportasi pribadi sebesar 0,29 persen, dan jasa pengiriman barang sebesar 0,64 persen.
"Deflasi yang terjadi dalam kelompok transportasi memberikan andil deflasi y-on-y sebesar 0,13 persen terhadap keseluruhan angka inflasi di Kalimantan Tengah," katanya.
Beberapa komoditas yang berkontribusi terhadap penurunan harga termasuk angkutan udara dengan andil 0,19 persen, bensin sebesar 0,05 persen, dan solar sebesar 0,01 persen. Di sisi lain, beberapa komoditas masih menyumbang inflasi, seperti pemeliharaan/service kendaraan, pelumas/oli mesin, dan sepeda motor, yang masing-masing menyumbang 0,03 persen serta perbaikan ringan kendaraan sebesar 0,01 persen.
--page
"Tak hanya dalam skala tahunan, kelompok transportasi juga mengalami deflasi month-to-month atau m-to-m sebesar 0,02 persen pada Mei 2025. Bensin menjadi komoditas utama yang menyumbang deflasi m-to-m, dengan penurunan sebesar 0,01 persen dibandingkan bulan sebelumnya," tuturnya.
Tren ini menunjukkan adanya perubahan dalam pola konsumsi dan harga transportasi di Kalimantan Tengah. Penurunan harga jasa angkutan penumpang yang cukup besar bisa jadi disebabkan oleh berbagai faktor, seperti kebijakan tarif atau perubahan jumlah penumpang. Sebaliknya, kenaikan harga dalam pembelian kendaraan dan layanan transportasi pribadi menunjukkan adanya permintaan yang tetap tinggi di sektor tersebut.
Dengan dinamika yang terjadi, pengamat ekonomi memprediksi bahwa pergerakan harga di sektor transportasi masih akan dipengaruhi oleh faktor eksternal seperti harga bahan bakar global dan kebijakan industri otomotif nasional. Pemerintah serta pelaku industri diharapkan dapat mengantisipasi perubahan harga ini guna memastikan keseimbangan ekonomi masyarakat.(TESTI PRISCILLA/Y)









