SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit – Malam menyambut Iduladha di Kecamatan Baamang, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), kembali dirayakan dengan semarak dan kehangatan tradisi. Seperti tahun-tahun sebelumnya, Pawai Obor menjadi magnet kebersamaan warga. Ribuan pasang mata memadati sisi jalan, menyaksikan barisan anak-anak yang membawa obor menerangi gelap malam, menciptakan siluet indah yang penuh makna spiritual dan budaya.

Kegiatan yang telah berlangsung untuk ke-12 kalinya ini bukan sekadar seremonial tahunan. Ia telah menjelma menjadi simbol kolaborasi, persaudaraan, dan pelestarian tradisi masyarakat Baamang.

“Acara malam hari ini adalah acara rutinan yang kita selenggarakan setiap malam Iduladha. Ini kolaborasi Kwartir Ranting Pramuka Baamang bersama Kecamatan Baamang untuk mempererat silaturahmi, melestarikan budaya, dan juga sebagai sarana hiburan warga,” ujar Ketua Kwartir Ranting Pramuka Baamang Dadang Siswanto, Kamis, 5 Juni 2025.

Pawai obor merupakan cara mengenang dan melestarikan salah satu tradisi masyarakat jaman dahulu ketika daerah ini belum teraliri listrik. Obor merupakan penerangan tempo dulu kala anak-anak berjalan menunu tempat belajar mengaji. 

Tahun ini, sekitar 600 peserta ambil bagian, terdiri dari 25 kelompok yang berasal dari satuan pendidikan, masyarakat umum, hingga instansi pemerintahan di tingkat kelurahan dan desa. Mereka menempuh rute sejauh 4 hingga 5 kilometer, membawa obor yang menyala dalam genggaman, berpakaian seragam dan kostum bernuansa Islami. Bahkan sejumlah dekorasi seperti Ka'bah dan masjid ditampilkan dengan lampu warna-warni.

Yang berbeda tahun ini, menurut Dadang, adalah jumlah hadiah yang lebih besar dari sebelumnya, sebagai bentuk apresiasi terhadap kreativitas dan semangat para peserta.

“Insya Allah ke depan sebagaimana arahan Camat kita, akan lebih semarak lagi dengan tambahan lampion dan hadiah yang lebih besar,” imbuhnya.

Dadang berharap, kegiatan ini akan menjadi agenda wisata tahunan di Kabupaten Kotawaringin Timur.

Sementara itu, Camat Baamang Sufiansyah mengatakan, pawai obor ini kini menjadi salah satu ikon penting malam Iduladha di wilayahnya. Masyarakat nampak antusias nampak dari kemacetan menuju lokasi acara menjadi tanda betapa besarnya perhatian dan partisipasi warga terhadap kegiatan ini.

“Penyelenggaraan kali ini memang luar biasa, dari kostum, penampilan, hingga semangat peserta terlihat ada perubahan. Harapan kita ke depan, kegiatan ini bisa lebih inovatif, ditambahkan lampion, serta didukung dengan anggaran yang lebih besar, termasuk untuk tahun 2026,” kata Sufiansyah.

Bagi masyarakat Baamang, pawai obor bukan hanya tentang nyala api yang menerangi malam. Ini adalah cara menjaga kebersamaan, menyampaikan nilai-nilai religius, dan menyambut Iduladha dengan rasa syukur dan sukacita.

Melalui cahaya obor, menumbuhkan pesan bahwa tradisi yang dijaga bersama akan tetap hidup dan tumbuh. Generasi muda, melalui keterlibatan aktif mereka dalam kegiatan ini, menjadi saksi sekaligus pewaris nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya. (DEWI PATMALASARI/j)