SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah mulai meningkatkan kesiagaan terhadap ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terlebih karena kebakaran lahan mulai terjadi.

"Siang ini terjadi kebakaran lahan gambut di Jalan HM Arsyad Desa Eka Bahurui Jalur 4. Luas lahan yang terbakar sekitar 0,378 hektare semak belukar. Alhamdulillah bisa dipadamkan," kata Kepala Pelaksana BPBD Kotim, Multazam di Sampit.

Informasi terjadinya kebakaran tersebut disampaikan oleh masyarakat kepada BPBD. Dua mobil tangki air dengan personel 14 orang dikerahkan ke lokasi untuk memadamkan api.

Kebakaran di lahan gambut harus dilakukan maksimal agar api tidak kembali muncul. Biasanya kebakaran lahan gambut terjadi hingga ke dalam tanah meski di permukaan sudah padam, makanya pemadaman harus dilakukan berulang-ulang sampai api benar-benar padam.

Kebakaran lahan ini menjadi isyarat bahwa kesiapsiagaan harus ditingkatkan mengantisipasi karhutla. BPBD mengimbau masyarakat untuk mencegah tindakan-tindakan yang bisa memicu terjadinya kebakaran lahan.

"Kami meminta kepedulian dan dukungan masyarakat. Tanpa dukungan masyarakat dan semua pihak, pemerintah tidak akan mampu mencegah dan menanggulangi karhutla," ujar Multazam.

BPBD Kotawaringin Timur juga mengantisipasi kekeringan saat kemarau, khususnya di wilayah selatan yang dinilai paling rawan.

"Paling rawan tetap di wilayah selatan. Potensi bencana di wilayah selatan ini dobel. Selain potensi bencana karhutla, juga ada potensi bencana kekeringan," kata Multazam.

Wilayah selatan meliputi Kecamatan Mentaya Hilir Utara, Mentaya Hilir Selatan, Teluk Sampit dan Pulau Hanaut. Meski merupakan wilayah pesisir, namun di wilayah ini juga terdapat banyak sebaran tanah gambut tebal.

Saat kemarau, gambut kering sehingga sangat mudah terbakar dan sulit dipadamkan. Apalagi, kebakaran sering terjadi di lokasi yang jauh dan sulit dijangkau melalui jalur darat sehingga harus mengandalkan pengeboman air menggunakan helikopter.

Selain karhutla, wilayah selatan juga sering dilanda kekeringan dan kesulitan air bersih. Hal ini lantaran saat kemarau, sumur menjadi dangkal dan air sungai menjadi payau atau berasa asin akibat intrusi air laut yang masuk ke alur Sungai Mentaya.

"Jaringan instalasi air bersih kita baru sampai di Desa Parebok, sehingga desa ke atasnya lagi perlu jadi perhatian. Intrusi air laut cukup kencang sehingga asin dan airnya tidak bisa dikonsumsi karena tidak sehat," ujar Multazam.

ANTARA