TAMIANG LAYANG –

BORNEONEWS, Tamiang Layang – Festival Nariuk 5 di Desa Pulau Patai, Kecamatan Dusun Timur, Kabupaten Barito Timur, direncanakan digelar pada Juli 2025. Festival budaya yang menampilkan tradisi berburu ikan dengan tombak di sungai ini merupakan warisan leluhur masyarakat Dayak Maanyan yang terus dilestarikan hingga kini.

Kepala Desa Pulau Patai, Sumardi, mengatakan pemilihan waktu pelaksanaan pada bulan Juli mempertimbangkan kondisi alam dan agenda besar di wilayah kabupaten.

“Biasanya pada Juli air sungai sudah mulai surut, sehingga sangat ideal untuk pelaksanaan nariuk. Kalau lewat dari Juli, sudah banyak kegiatan lain seperti peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia dan Hari Ulang Tahun Kabupaten Barito Timur, jadi kami tidak ingin jadwalnya bertabrakan,” ujarnya kepada Borneonews, Sabtu, 7 Juni 2025.

Sumardi menegaskan bahwa pihak desa bersama masyarakat saat ini terus melakukan persiapan, termasuk memperbaiki kekurangan dari pelaksanaan Festival Nariuk sebelumnya. Dukungan anggaran telah disiapkan melalui APBDes 2025, serta bantuan dari Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Kepemudaan dan Olahraga Barito Timur.

“Kami berupaya lebih siap tahun ini. Salah satu perubahan besar adalah kami tidak lagi menyiapkan konsumsi gratis bagi peserta, tetapi memaksimalkan keberadaan lapak UMKM untuk menyediakan makanan dan minuman. Ini juga bagian dari pemberdayaan ekonomi masyarakat,” tambah Sumardi.

Pada pelaksanaan Festival Nariuk ke-4 tahun lalu, tercatat sebanyak 3.050 pengunjung hadir menyaksikan keunikan atraksi budaya ini. Tahun ini, panitia berharap jumlah pengunjung meningkat seiring dengan perbaikan kualitas penyelenggaraan dan promosi yang lebih luas.

Festival Nariuk merupakan perayaan budaya masyarakat Dayak Maanyan yang menghidupkan kembali tradisi nariuk, yakni aktivitas menangkap ikan secara beramai-ramai dengan menggunakan tombak khusus yang dinamakan tariuk di sungai yang mulai surut. 

Dalam tradisi ini, para pria dewasa memasuki sungai dan menyisir aliran air sambil menombak ikan secara tradisional. Selain sebagai kegiatan mencari ikan, nariuk juga menjadi simbol kebersamaan, gotong royong dan rasa syukur atas hasil alam yang melimpah.

Festival ini tidak hanya menjadi daya tarik wisata budaya, tetapi juga momentum penting untuk mengedukasi generasi muda tentang kearifan lokal yang hampir punah.

“Kami ingin masyarakat, terutama generasi muda, bangga dengan budaya sendiri. Nariuk bukan sekadar menangkap ikan, tapi bagian dari jati diri kami sebagai orang Maanyan,” pungkas Sumardi.

Dengan semangat pelestarian budaya dan kolaborasi antara pemerintah desa, warga, serta instansi terkait, Festival Nariuk 5 diharapkan menjadi magnet wisata yang memperkuat identitas lokal sekaligus mendukung pembangunan ekonomi masyarakat desa. (AGUSTINUS BOLE MALO/j)