BORNEONEWS, Seoul – Dalam upaya memperkuat dukungan publik terhadap penyatuan damai Semenanjung Korea, Heavenly Culture, World Peace, Restoration of Light (HWPL), sebuah LSM internasional berbasis di Korea Selatan, menggelar kampanye bertajuk “Masa Depan Perdamaian dan Kemakmuran: Perjalanan Bebas di Semenanjung Korea.”
Kampanye ini menjadi bagian dari Peringatan Tahunan ke-12 Deklarasi Perdamaian Dunia dan dilaksanakan secara luring di 86 titik serta daring di 8 lokasi. Di Korea Selatan sendiri, kegiatan berlangsung sepanjang Juni 2025 di 12 kota, termasuk Seoul, Incheon, Busan, Daejeon, Jeonju, dan lainnya, melibatkan lebih dari 13.600 peserta.
HWPL berkolaborasi dengan pemerintah daerah dan organisasi sosial, membawa pesan perdamaian dan harapan reunifikasi Korea. Ragam kegiatan edukatif dan budaya turut menyemarakkan kampanye, termasuk jalan damai, pertunjukan seni, dialog publik, serta pengalaman simbolik seperti naik Kereta Perdamaian dari Stasiun Seoul ke Stasiun Pyongyang.
Deklarasi Perdamaian Dunia pertama kali disampaikan pada 25 Mei 2013 oleh Ketua HWPL, Man Hee Lee, seorang veteran Perang Korea, di Gerbang Perdamaian, Taman Olimpiade Seoul. Deklarasi ini menegaskan pentingnya peran aktif masyarakat global dalam menciptakan dunia tanpa konflik bersenjata.
Dalam acara tahunan ke-9 Deklarasi DPCW HWPL yang diadakan pada Maret lalu, Ketua Lee kembali menyerukan pentingnya dialog konstruktif dan kebebasan perjalanan antar-Korea sebagai kunci menuju reunifikasi damai.
“Unifikasi tidak bisa dipaksakan. Harus dicapai melalui pertukaran terbuka dan niat baik. Dunia harus melihat Korea sebagai contoh hidup dari perdamaian,” ujar Lee.
Salah satu momen paling mengharukan dalam kampanye ini adalah presentasi dari keluarga yang terpisah oleh konflik Korea. Melalui kisah nyata dan konten lintas generasi, peserta—terutama generasi muda—dapat lebih memahami dampak jangka panjang dari perpecahan nasional.
Acara juga menghadirkan berbagai program tematik seperti menghubungkan Utara dan Selatan melalui hutan, gema bakti dan perdamaian: menghubungkan bangsa, tantangan “We Are One for Korea”, dan penulisan janji dan pesan perdamaian oleh peserta.
Kampanye ini tidak hanya menyentuh aspek emosional, tetapi juga menjadi ajang dialog antar-generasi, menjembatani generasi perang dan generasi muda untuk bersama-sama membangun visi perdamaian.
Kegiatan ini juga selaras dengan Pekan Pendidikan Unifikasi yang diperingati setiap pekan keempat Mei oleh Kementerian Unifikasi Korea Selatan, yang menekankan pentingnya keterlibatan publik dalam proses reunifikasi.
Dengan momentum ini, HWPL berharap kampanye yang telah digelar dapat menjadi fondasi praktis untuk memperkuat solidaritas internasional dan mendorong pertukaran antar-Korea secara bebas.
JURNALIS WARGA









