SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kotawaringin Timur (Kotim) melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH) setempat akan menggunakan metode sanitary landfill untuk menangani sampah khususnya non plastik. 

"Metode ini kita ambil mengingat TPA kita sudah overload. Bukan luasan lahannya tapi penggunaan kita ya. Minggu depan sudah mulai kita lakukan. Sementara untuk sampah plastik akan didaur ulang," kata Kepala DLH Kotim, Marjuki, Senin, 9 Juni 2025.

Bedasarkan data DLH Kotim menunjukkan produksi sampah di Kabupaten Kotim mencapai 240 ton per hari, dengan konsentrasi terbesar di Kecamatan Baamang dan Mentawa Baru Ketapang 120 ton per hari.

Kondisi itu mendorong DLH Kotim untuk berupaya agar sampah tersebut ditangani dengan baik mulai dari mengurangi produksi sampah hingga pengolahan sampah salah satunya metode sanitary landfill tersebut. 

"Kami mulai melakukan metode sanitary landfill. Tidak ada lagi sampah plastik yang dibuang di TPA," imbuhnya. 

Marjuki menyebut metode sanitary landfill merupakan metode menimbun sampah. Pihaknya akan membuat lubang dengan ukuran yang sesuai ketentuan kemudian sampah khusunya non plastik  akan dimasukkan ke dalam lubang tersebut. Setelah landfill mencapai kapasitasnya, dilakukan penutupan akhir dengan lapisan tanah yang tebal dan vegetasi untuk mencegah erosi dan pencemaran.

"Tentu tidak asal timbun ada beberapa hal yang harus dilakukan agar tidak menimbulkan dampak negatif dikemudian hari. Kita harus pastikan itu," ucapnya. 

Sementara untuk sampah plastik, DLH akan melakukan pemilahan di depo sampah. Sampah plastik tersebut akan didaur ulang kembali untuk dijadikan barang yang lebih bermanfaat salah satunya briket. 

"Dengan begitu akan sampah plastik akan lebih bermanfaat tidak mencemari lingkungan. Kita tahu, plastik itu sampah yang sulit terurai sehingga lebih baik didaur ulang. Kami juga mengimbau kepada masyarakat untuk mengurangi penggunaan plastik dan melakukan pemilihan sampah," ucapnya Marjuki. (DEVIANA/j)