PANGKALAN BUN –

BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar) terus menunjukkan komitmennya dalam menjaga kelestarian lingkungan. Pada peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2025 dengan tema “Hentikan Polusi Plastik”, Selasa, 10 Juni 2025, aksi bersih-bersih yang diikuti berbagai elemen masyarakat digelar di wilayah Kecamatan Kumai dan Arut Selatan (Arsel).

Bupati Kobar, Hj. Nurhidayah, dalam kunjungannya ke sejumlah lokasi kegiatan menyampaikan bahwa program ini bukan sekadar seremoni, tetapi menjadi langkah awal menuju agenda lingkungan yang berkelanjutan.

“Sasaran kita ada di beberapa titik, kelurahan Baru, Mendawai, Desa Kubu, dan Kumai Hulu. Lokasi-lokasi ini berpotensi mendatangkan sampah plastik dan menciptakan kekumuhan, apalagi di bantaran sungai dan kawasan wisata. Kegiatan ini jangan hanya ceremonial, tapi harus berkelanjutan,” ujar Nurhidayah.

Untuk memastikan keberlanjutan program, Bupati Kobar mencanangkan gerakan Jumat Bersih. Program ini akan dilaksanakan rutin setiap pekan di sekolah, kantor pemerintahan dan lingkungan masyarakat.

“Kami juga sedang menyusun rencana membentuk Tim Adipura Kabupaten yang nantinya akan menilai kebersihan hingga ke tingkat desa dan kelurahan. Reward khusus akan diberikan bagi yang aktif menjaga kebersihan,” tambahnya.

Kegiatan bersih-bersih tersebut mendapat dukungan penuh dari unsur Forkopimcam Kumai, TNI/Polri, hingga masyarakat sekitar. Danramil 1014-02/Kumai, Kapten Inf Faturrachman, menyatakan pihaknya siap bersinergi dalam aksi-aksi peduli lingkungan.

--page

“Kami dari Koramil Kumai mendukung sepenuhnya pelaksanaan kegiatan ini. Alhamdulillah, semua berjalan dengan semangat kebersamaan. Kami libatkan personel Koramil bersama instansi lainnya untuk membersihkan area Pantai Kubu dan sekitarnya,” ujarnya.

Dengan adanya dukungan dari berbagai pihak, Pemkab Kobar berharap gerakan peduli lingkungan ini dapat membangun kesadaran kolektif masyarakat untuk menjaga kebersihan secara berkelanjutan, khususnya dalam upaya mengurangi polusi plastik yang berdampak jangka panjang bagi ekosistem. (SITI AKOBAH/Y)