BORNEONEWS, Palangka Raya - HISKI Komisariat Kalimantan Tengah menyelenggarakan Lokakarya Penciptaan Produk Sastra Kreatif Berbasis Manuskrip dan Tradisi Lisan pada 11–12 Juni 2025, yang menghadirkan beberapa narasumber, salah satunya Dr Rita Inderawati, Peneliti sekaligus Pengurus HISKI Pusat dari Universitas Sriwijaya.
Dalam paparannya, Dr. Rita menyampaikan materi berjudul “Podcast dan Pertunjukan Drama Virtual Berbasis Manuskrip dan Tradisi Lisan,” yang menekankan pentingnya menggabungkan warisan budaya lokal dengan teknologi digital untuk melestarikan nilai-nilai budaya secara kreatif dan relevan.
Dr Rita menyoroti kekayaan budaya Kalteng yang tersimpan dalam bentuk tradisi lisan dan manuskrip, yang menurutnya memiliki potensi besar sebagai sumber daya kreatif digital.
“Kita perlu memulai dari akar budaya, dari narasi yang hidup di tengah masyarakat, bukan dari template produksi luar,” ujarnya dalam sesi pemaparan.
Lokakarya ini membedakan diri dari kursus kreatif biasa dengan menempatkan proses pendalaman budaya sebagai fondasi produksi konten digital.
Lebih lanjut, Rita memperkenalkan konsep literasi digital lokal, yakni proses kreatif yang berbasis pada konten autentik daerah, seperti legenda suku Dayak, syair tradisional, hingga manuskrip kuno seperti Hikayat Mi'raj dan Kitab Tanbih al-Mashi. Ia menjelaskan bahwa narasi-narasi tersebut diadaptasi ke dalam bentuk naskah drama dan podcast yang dapat diakses generasi muda lewat platform digital masa kini.
Salah satu pendekatan utama dalam lokakarya ini adalah keterlibatan pemuda secara aktif melalui pertunjukan virtual. Melalui drama daring dan podcast, peserta muda didorong untuk mengeksplorasi identitas dan warisan mereka dalam bentuk yang ekspresif dan inklusif.
“Podcast bukan hanya suara; ia adalah jembatan antara masa lalu dan masa depan,” jelas Dr Rita sambil memperdengarkan cuplikan dari karya sebelumnya.
Tak hanya itu, lokakarya juga menekankan pendekatan kolaboratif. Siswa, guru, seniman lokal, dan penjaga budaya duduk bersama dalam proses kreatif, saling berbagi peran dan validasi pengetahuan. Kolaborasi lintas generasi ini menjadi kekuatan utama dalam memastikan hasil karya tidak kehilangan makna budaya dan tetap relevan dengan konteks masyarakat sekarang.
Materi lokakarya juga selaras dengan semangat Kurikulum Merdeka dan Profil Pelajar Pancasila. Nilai-nilai seperti gotong royong, kesadaran budaya, berpikir kritis, dan komunikasi ditanamkan dalam proses penciptaan podcast dan drama virtual.
“Kita mendidik bukan hanya untuk teknis produksi, tapi untuk menjadi manusia yang peka terhadap akar budayanya,” katanya.
Lokakarya ini diharapkan menjadi model pelestarian budaya berbasis pendidikan kreatif yang dapat direplikasi di berbagai daerah lain di Indonesia.
“Transformasi kreatif bukan sekadar tren, ini adalah tanggung jawab kebudayaan kita bersama,” tutup Dr Rita dengan optimisme.
Hadir memberi sambutan dalam pembukaan kegiatan yakni Wakil Rektor Universitas Palangka Raya, Dr Natalina Asi dan Ketua Umum HISKI, Prof Novi Anoegrajekti. Selain itu memberikan sambutan pula Sekretaris Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, Agung Catur Prabowo, serta dihadiri Ketua HISKI Komisariat Kalimantan Tengah, Alifiah Nurachmana. (TESTI PRISCILLA/H)









