PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Pemanfaatan manuskrip sebagai sumber penulisan kreatif dan penguatan pilar-pilar Sustainable Development Goals atau SDGs menjadi sorotan utama dalam Lokakarya Penciptaan Produk Sastra Kreatif Berbasis Manuskrip dan Tradisi Lisan yang digelar oleh HISKI Komisariat Kalimantan Tengah pada 11–12 Juni 2025.

Dalam forum ini, narasumber dari Masyarakat Pernaskahan Nusantara atau MANASSA, Munawar Holil, menekankan bahwa manuskrip bukan sekadar dokumen tua, tetapi sumber pengetahuan budaya yang mampu memberi inspirasi baru dalam pengembangan sastra dan pemberdayaan masyarakat.
Holil menguraikan bahwa yang disebut “manuskrip” mencakup naskah-naskah kuno beserta seluruh informasi kultural yang terkandung di dalamnya, seperti serat, babad, hikayat, dan kitab.

“Nilai sejarah dan budaya dalam manuskrip menjadikannya fondasi penting dalam merangkai karya sastra yang berakar kuat pada identitas bangsa,” ujarnya di hadapan peserta lokakarya yang terdiri dari sastrawan, akademisi, dan pegiat kebudayaan.

Lebih jauh, ia menekankan bahwa digitalisasi telah membuka babak baru bagi pelestarian dan distribusi naskah kuno. Teknologi digital, yakni sistem komputerisasi yang terhubung internet, memungkinkan informasi dalam manuskrip diakses lebih luas dan cepat, sekaligus membuka ruang baru bagi generasi muda untuk mengolahnya menjadi karya yang segar dan relevan. Transformasi ini terlihat nyata pada saduran teks menjadi bentuk populer seperti komik, film animasi, hingga pertunjukan teater.

“Penulisan kreatif berbasis manuskrip adalah bentuk modern dari dialog lintas generasi,” kata Holil.
Ia mencontohkan bagaimana teks La Galigo dari Sulawesi Selatan mengandung narasi kesetaraan gender yang kuat, dapat dimaknai ulang dalam konteks sosial kontemporer. Hal ini mendukung pilar pembangunan sosial dalam SDGs, seperti kesetaraan dan pemberdayaan perempuan.

Tidak hanya sosial, kontribusi manuskrip juga menjangkau pilar ekonomi. Dalam sejarahnya, naskah surat-surat Sultan Banten kepada Raja Inggris menunjukkan diplomasi perdagangan melalui lada dan senjata, membuka ruang refleksi terhadap ekonomi kreatif berbasis sejarah.

“Nilai historis ini bisa diolah menjadi produk seperti motif busana, tur wisata berbasis sejarah, hingga konten digital,” tambah Holil.

Sementara itu, pada aspek lingkungan, Holil mengangkat Warugan Lemah, naskah Sunda Kuno yang memuat pola permukiman berdasarkan topografi tanah sebagai contoh nilai ekologis lokal.

Pengetahuan ini, katanya, dapat dikontekstualisasikan kembali sebagai inspirasi perencanaan tata ruang yang berkelanjutan. Begitu pula dengan prinsip-prinsip hukum adat dalam manuskrip seperti Undang-Undang Simbur Cahaya yang menawarkan alternatif penguatan hukum berbasis kearifan lokal.

Munawar Holil menutup paparannya dengan menyatakan bahwa pelestarian manuskrip tidak cukup hanya dengan konservasi fisik, namun juga harus melalui pemberdayaan makna dan penggunaannya dalam wacana publik kontemporer.

“Menghidupkan manuskrip berarti menghidupkan kembali akar kebudayaan kita untuk masa depan yang lebih berkelanjutan,” ujarnya.

Lokakarya ini menjadi tonggak penting dalam upaya HISKI Kalteng untuk mengintegrasikan warisan budaya dengan praktik kreatif masa kini, serta menguatkan kontribusi sastra terhadap tujuan pembangunan global. Dengan mengangkat suara masa lalu, para peserta diyakini mampu menulis narasi baru bagi Indonesia yang tangguh, inklusif, dan berwawasan budaya.

Hadir memberi sambutan dalam pembukaan kegiatan yakni Wakil Rektor Universitas Palangka Raya, Dr Natalina Asi dan Ketua Umum HISKI, Prof Novi Anoegrajekti. Selain itu memberikan sambutan pula Sekretaris Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, Agung Catur Prabowo, serta dihadiri Ketua HISKI Komisariat Kalimantan Tengah, Alifiah Nurachmana. (TESTI PRISCILLA/H)