PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Nilai Tukar Petani Hortikultura atau NTPH di Kalimantan Tengah mengalami penurunan signifikan pada Mei 2025 sebesar 4,36 persen dibandingkan bulan sebelumnya.

Hal ini disampaikan oleh Kepala Badan Pusat Statistik atau BPS Provinsi Kalimantan Tengah, Agnes Widiastuti, dalam laporan resmi perkembangan NTP bulan Mei.

Agnes menjelaskan bahwa penurunan NTPH disebabkan oleh anjloknya Indeks Harga yang Diterima Petani atau It subsektor hortikultura sebesar 4,41 persen. Penurunan ini turut diikuti oleh Indeks Harga yang Dibayar Petani atau Ib yang juga turun tipis sebesar 0,05 persen.

"Penurunan It hortikultura menjadi faktor utama pelemahan NTPH bulan ini," ujar Agnes.

Faktor dominan penurunan It hortikultura berasal dari kelompok sayur-sayuran, yang mencatat penurunan tajam sebesar 10,25 persen. Komoditas seperti cabai rawit, ketimun, dan kacang panjang menjadi penyumbang terbesar penurunan harga di kelompok ini, memengaruhi daya tukar petani secara keseluruhan di subsektor hortikultura.

Namun demikian, tidak semua komoditas hortikultura mengalami pelemahan. Kelompok tanaman buah-buahan seperti cempedak dan buah naga justru mengalami kenaikan harga sebesar 0,07 persen, sementara kelompok tanaman obat seperti kemangi dan jahe mencatat kenaikan lebih tinggi sebesar 1,72 persen.

Di sisi lain, penurunan Ib hortikultura dari 127,33 menjadi 127,26 terutama disumbang oleh penurunan indeks kelompok konsumsi rumah tangga petani atau KRT sebesar 0,06 persen. Meski relatif kecil, penurunan Ib turut memengaruhi dinamika daya beli petani di pedesaan.

Agnes menegaskan bahwa fluktuasi harga seperti ini menunjukkan perlunya perhatian khusus terhadap kestabilan harga komoditas hortikultura, terutama pada kelompok sayur-sayuran yang sangat rentan terhadap perubahan cuaca dan pasokan.

“Kami terus memantau agar informasi ini dapat menjadi acuan bagi para pemangku kepentingan dalam menyusun kebijakan yang berpihak pada petani,” tuturnya. (TESTI PRISCILLA/H)