PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Pemanfaatan kekayaan budaya lokal untuk mendukung industri kreatif menjadi sorotan utama dalam Lokakarya Penciptaan Produk Sastra Kreatif Berbasis Manuskrip dan Tradisi Lisan Kalteng, yang digelar oleh HISKI Komisariat Kalimantan Tengah pada 11–12 Juni 2025.

Dalam kesempatan ini, M Yoesoef, narasumber dari HISKI Komisariat Universitas Indonesia, menyampaikan materi bertajuk Mengartikulasi Tradisi Lisan dan Manuskrip untuk Industri Kreatif.
Dalam paparannya, Yoesoef menjelaskan bahwa artikulasi dalam konteks ini merujuk pada kemampuan untuk mengungkapkan gagasan secara jelas dan efektif melalui tulisan kreatif.

Menurutnya, proses kreatif yang berangkat dari akar tradisi lisan dan manuskrip lokal memungkinkan terjadinya pengucapan baru atas wacana tradisional, yang relevan dengan lingkungan budaya kontemporer.

Lebih lanjut, Yoesoef menekankan bahwa tradisi lisan seperti Sansana (puisi lisan), Karungut, cerita rakyat, mitos dan legenda, hingga mantra serta nyanyian ritual, memiliki potensi besar sebagai modal budaya dalam menciptakan karya sastra yang bernilai estetika sekaligus ekonomis.

“Kita tidak hanya menjaga warisan, tapi juga memberi nyawa baru dalam bentuk ekspresi kreatif yang bisa dipasarkan,” ujarnya.

Peserta lokakarya diajak untuk mengidentifikasi elemen naratif dari tradisi lisan Kalimantan Tengah dan mengembangkan gagasan sastra baru seperti puisi atau cerita pendek. Simulasi kreatif ini mengasah kemampuan artikulatif peserta sekaligus membuka kemungkinan lahirnya antologi karya sastra yang siap dikembangkan ke ranah industri.

Menurut Yoesoef, pentingnya pemanfaatan warisan budaya sejalan dengan amanat Undang-Undang No. 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan.

“Kita bicara tentang perlindungan, pengembangan, pembinaan, dan pemanfaatan budaya lokal. Itu bisa menjadi fondasi kuat industri kreatif Indonesia, termasuk di bidang sastra,” jelasnya.

Salah satu contoh artikulasi yang diangkat dalam sesi tersebut adalah reinterpretasi kisah rakyat seperti “Jaka Tarub” dan “Malin Kundang” dalam bentuk drama modern. Karya puisi seperti “Telinga” oleh Sapardi Djoko Damono juga disebut sebagai inspirasi dalam menggali kedalaman makna tradisi secara kontemporer.

Lokakarya ini tak hanya mempertemukan akademisi dan sastrawan, tetapi juga mendorong pelaku kreatif untuk melihat budaya sebagai sumber daya strategis. Dengan pendekatan artikulatif, tradisi lisan dan manuskrip lokal tak lagi menjadi artefak masa lalu, melainkan motor penggerak ekonomi kreatif yang berbasis identitas kultural.

Hadir memberi sambutan dalam pembukaan kegiatan yakni Wakil Rektor Universitas Palangka Raya, Dr Natalina Asi dan Ketua Umum HISKI, Prof Novi Anoegrajekti. Selain itu memberikan sambutan pula Sekretaris Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, Agung Catur Prabowo, serta dihadiri Ketua HISKI Komisariat Kalimantan Tengah, Alifiah Nurachmana. (TESTI PRISCILLA/H)