PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Dalam upaya memperkaya sumber daya genetik kelapa sawit, Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian bersama Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia atau GAPKI, Konsorsium Plasma Nutfah Kelapa Sawit Indonesia, PT Riset Perkebunan Nusantara atau RPN, dan Perhimpunan Ilmu Pemuliaan dan Perbenihan Sawit Indonesia atau PIPPSI berkolaborasi dalam riset eksplorasi ke Tanzania.

Program bertajuk Pengayaan Sumber Daya Genetik Kelapa Sawit Indonesia ini bertujuan untuk menghadirkan keragaman baru yang dapat mendukung pengembangan varietas sawit unggul.

Menurut Dr Edy Suprianto dari PT Riset Perkebunan Nusantara, Tanzania dipilih sebagai lokasi eksplorasi karena merupakan salah satu pusat asal kelapa sawit.

“Kami melihat potensi besar dalam keanekaragaman genetik kelapa sawit di Tanzania, yang nantinya dapat dikembangkan untuk meningkatkan adaptasi tanaman terhadap tantangan lingkungan serta meningkatkan produktivitasnya,” ujar Dr Edy Suprianto, yang juga menjabat sebagai Ketua Tim Periset Eksplorasi SDG Tanzania pada Jumat, 13 Juni 2025 dalam rilis yang dikirimkan Badan Pengelola Dana Perkebunan atau BPDP.

Program riset ini mendapat dukungan pendanaan dari Badan Pengelola Dana Perkebunan atau BPDP serta perusahaan-perusahaan perkebunan yang tergabung dalam Konsorsium Plasma Nutfah Kelapa Sawit Indonesia. Kegiatan eksplorasi berlangsung selama dua tahun dengan tiga tahapan utama: Pra Eksplorasi, Eksplorasi, dan Pasca Eksplorasi. Tahapan Pra Eksplorasi melibatkan negosiasi antara GAPKI dan Pemerintah Tanzania hingga tercapai kesepakatan dengan Tanzania Agricultural Research Institute atau TARI dalam perjanjian Agreement on Oil Palm Germplasm Collaboration.

Eksplorasi dilakukan di berbagai wilayah Tanzania yang mencakup daerah pesisir serta dataran tinggi. Tim peneliti berhasil mengumpulkan tandan dari 102 aksesi kelapa sawit dengan karakteristik genetik yang sangat beragam. Dari hasil eksplorasi, sebanyak 83.004 butir benih telah diperoleh dan saat ini tengah menjalani tahap pemrosesan serta pengujian sesuai standar karantina Indonesia.

Dr Edy Suprianto menjelaskan bahwa eksplorasi ini memiliki dampak signifikan terhadap penyediaan material genetik untuk pemuliaan kelapa sawit di Indonesia.

“Keanekaragaman ini sangat berharga untuk perakitan varietas baru yang lebih adaptif terhadap perubahan iklim serta lebih tahan terhadap serangan hama dan penyakit,” ungkapnya.

Kolaborasi lintas sektor yang dilakukan dalam riset ini menunjukkan komitmen kuat berbagai pihak dalam membangun keberlanjutan industri kelapa sawit nasional. Dengan semakin kaya sumber daya genetik yang dimiliki, harapan terhadap varietas kelapa sawit yang lebih produktif dan tahan tantangan lingkungan semakin besar, menjanjikan masa depan industri kelapa sawit yang lebih baik. (TESTI PRISCILLA/H)