PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Kalimantan Tengah memiliki khazanah budaya yang luar biasa, baik dalam bentuk tradisi lisan maupun manuskrip bersejarah. Wilayah ini merupakan rumah bagi dua entitas kebudayaan besar, yakni Dayak dan Melayu, yang tersebar di sepanjang 11 sungai besar.

Tradisi lisan dan manuskrip telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat setempat, menyebar melalui jalur air bersama dengan 23 bahasa dan belasan dialek yang menghiasi keberagaman budaya daerah ini.

Meski kekayaan budaya Kalimantan Tengah melimpah, jumlah kreator konten yang mengangkat warisan budaya masih sangat terbatas. Hanya beberapa nama yang dikenal sebagai kreator budaya di wilayah ini, seperti Andrew Kalaweit, Amelia Santy, Bang Lapar, dan Folks of Dayak. Rasio antara luas wilayah, kekayaan budaya, dan jumlah kreator masih jauh dari seimbang.

"Potensi besar dari tradisi lisan dan manuskrip belum tergarap secara optimal," ujar Imam Qalyubi, Pengurus HISKI Pusat serta Dosen UIN Palangka Raya dalam Lokakarya Penulisan Kreatif Sastra dan Penciptaan Produk Kreatif Berbasis Tradisi Lisan dan Manuskrip pada 11-12 Juni 2025 di Palangka Raya.

Menurut Qalyubi, narasi budaya yang ada perlu dikemas ulang dengan pendekatan yang lebih sesuai dengan perkembangan zaman. Dalam era digital saat ini, alih wahana dari tradisi lisan dan manuskrip ke media kontemporer menjadi salah satu strategi penting dalam melestarikan budaya. Media sosial, video, podcast, hingga buku digital dapat menjadi wadah yang efektif untuk mengenalkan dan menjaga eksistensi warisan budaya Kalimantan Tengah.

Peta kekayaan tradisi lisan dan manuskrip Kalimantan Tengah menunjukkan bahwa sungai-sungai besar menjadi pusat peradaban dan keberlanjutan tradisi lisan. Masyarakat yang hidup di sepanjang sungai memiliki cerita rakyat, pantun, syair, dan manuskrip yang mencerminkan sejarah serta kearifan lokal. Namun, minimnya digitalisasi dan distribusi karya budaya ini menjadi tantangan tersendiri dalam upaya pelestarian.

Qalyubi menekankan pentingnya mengadaptasi budaya lama ke dalam bentuk baru agar tetap relevan bagi generasi muda.

"Ketika cerita lama diceritakan kembali dengan cara baru, kita bukan hanya menyelamatkan warisan, tapi juga menghidupkan jiwa kolektif sebuah bangsa," katanya.

Dengan demikian, penguatan peran kreator konten budaya di Kalimantan Tengah dapat menjadi solusi dalam menjaga keberlanjutan tradisi dan manuskrip yang ada.

Upaya ini membutuhkan dukungan berbagai pihak, termasuk akademisi, pemerintah, serta masyarakat umum. Peningkatan jumlah konten kreator yang mampu mengangkat nilai-nilai budaya Kalimantan Tengah di platform digital diharapkan dapat memberikan manfaat besar bagi pelestarian dan revitalisasi budaya daerah ini, sekaligus membuka peluang baru bagi industri kreatif berbasis warisan budaya. (TESTI PRISCILLA/H)