BORNEONEWS, Palangka Raya - Sendratari "Rubui Manawang" menjadi bukti bagaimana sastra dapat bertransformasi menjadi seni pertunjukan yang memukau. Diadaptasi dari buku Ma'anyan Berkisah karya Niklous Pronika, produksi ini menggabungkan sejarah dan mitologi Suku Dayak Ma'anyan dengan teknologi modern, menciptakan pengalaman unik bagi penonton.
Proses adaptasi ini dipimpin oleh sutradara Benny M Tundan yang menggandeng berbagai seniman untuk menghidupkan narasi kaya tersebut di panggung. Tak hanya mengubah medium dari tulisan ke gerak, visual, dan musik, sendratari ini juga mengintegrasikan kecerdasan buatan (AI) dengan kearifan leluhur, khususnya konsep Nini Punyut yang menjadi pijakan budaya Ma'anyan.
"Salah satu tantangan terbesar dalam produksi ini adalah menjaga keseimbangan antara tradisi dan inovasi. Para kreator harus menemukan cara untuk memvisualisasikan konsep abstrak dari kisah yang diangkat, serta mengatasi batasan teknis dalam penggunaan teknologi AI. Namun, kerja keras mereka membuahkan hasil yang luar biasa," kata Benny saat menjadi salah satu narasumber dalam kegiatan Lokakarya Penulisan Kreatif Sastra dan Penciptaan Produk Kreatif Berbasis Tradisi Lisan dan Manuskrip oleh HIKSI Komisariat Kalimantan Tengah pada 11-12 Juni 2025 di Palangka Raya.
Sendratari Rubui Manawang mendapatkan apresiasi tinggi dari pemerintah dan komunitas seni. Karya ini tidak hanya berhasil melestarikan budaya lokal, tetapi juga memperkuat ekosistem seni pertunjukan di Kalimantan Tengah. Dengan pendekatan yang inovatif, produksi ini berhasil menghadirkan perspektif baru dalam memahami sejarah dan mitologi Dayak Ma'anyan.
Keunikan lain yang ditampilkan adalah Tumet Leut, seni bertutur dan bernyanyi dalam bahasa kuno Pangunraun. Seni ini dikenal kaya akan nilai kesopanan dan biasanya disampaikan oleh para lansia berbakat melalui bahasa kiasan dan nyanyian. Keberadaan Tumet Leut dalam Rubui Manawang semakin memperkuat akar budaya yang menjadi jiwa utama pertunjukan.
"Kisah Rubui Manawang membuktikan bahwa warisan budaya dapat terus berkembang tanpa kehilangan esensinya. Dengan pendekatan kreatif yang menyatukan tradisi dan teknologi, sendratari ini menjadi inspirasi bagi generasi penerus dalam menjaga serta merayakan kekayaan budaya mereka. Saya berharap ini juga bisa menjadi inspirasi bagi peserta Lokakarya Hiski ini," harap Pengelola Sanggar Marajaki ini. (TESTI PRISCILLA/H)









