BORNEONEWS, Palangka Raya - Program eksplorasi sumber daya genetik kelapa sawit di Tanzania mencapai tahap penting pada Maret hingga April 2024.
Dalam kegiatan joint exploration ini, tim peneliti dari Indonesia yang terdiri dari enam orang bekerja sama dengan sepuluh perwakilan dari Tanzania Agricultural Research Institute atau TARI dan Tanzania Plant Health and Pesticide Authority atau TPHPA. Penelitian dilakukan di sepuluh wilayah yang terdiri dari lima daerah pesisir dan lima daerah dataran tinggi, menjangkau lokasi dengan ketinggian yang sangat beragam.
Menurut Dr Edy Suprianto, Ketua Tim Periset Eksplorasi SDG Tanzania dari PT Riset Perkebunan Nusantara, material genetik yang diperoleh dari eksplorasi ini memiliki nilai strategis bagi penelitian dan pengembangan kelapa sawit.
“Keanekaragaman genetik yang kita temukan sangat luar biasa. Ini akan menjadi aset penting untuk merakit varietas yang lebih adaptif terhadap tantangan lingkungan, lebih produktif, dan lebih tahan terhadap penyakit serta hama,” ujar Dr Edy Suprianto dalam rilis Badan Pengelola Dana Perkebunan atau BPDP pada Sabtu, 14 Juni 2025.
Eksplorasi ini tidak hanya memperkaya sumber daya genetik, tetapi juga memperkuat hubungan kerja sama antara Indonesia dan Tanzania dalam bidang riset perkebunan. Dengan semakin luasnya basis genetik yang tersedia, diharapkan industri kelapa sawit nasional dapat terus berkembang dan berkontribusi lebih besar terhadap keberlanjutan pertanian dan ekonomi Indonesia.
Tanaman kelapa sawit yang dikoleksi memiliki karakter adaptasi yang unik terhadap lingkungan geografis setempat. Di wilayah Tanga, misalnya, tanaman tumbuh di ketinggian 3 meter di atas permukaan laut, sedangkan di Tabora ditemukan pada ketinggian 1.142 mdpl.
"Perbedaan ini menunjukkan bahwa kelapa sawit memiliki potensi adaptasi yang luas terhadap kondisi geografis yang beragam, yang berpotensi menjadi sumber genetik bagi pengembangan varietas baru di Indonesia," kata Dr Edy.
Wilayah eksplorasi juga mencakup area yang berbatasan langsung dengan berbagai negara. Mtwara berbatasan dengan Mozambik, Ruvuma dengan Malawi, Tanga dengan Kenya, serta Kigoma dan Katavi berbatasan dengan Kongo, Burundi, dan Zambia. Keberagaman ekosistem di wilayah ini memperkaya variasi genetik kelapa sawit yang dikumpulkan, memberikan peluang bagi peneliti untuk menemukan karakter tanaman yang lebih tahan terhadap kondisi lingkungan ekstrem.
"Hasil eksplorasi berhasil mengumpulkan tandan dari 102 aksesi kelapa sawit yang terdiri dari tipe Dura dan Tenera dengan variasi warna buah nigrescens dan virescens," tuturnya.
Proses pemrosesan tandan dilakukan secara manual, menghasilkan 83.004 butir benih yang nantinya akan menjalani tahap pemrosesan lebih lanjut sebelum masuk ke program pemuliaan tanaman di Indonesia. (TESTI PRISCILLA/H)









